23 Mei 2017 15:54:49

Balasan Setimpal untuk Pengkhianat

Balasan Setimpal untuk Pengkhianat

Seorang pejabat sedang menyiapkan jamuan istimewa untuk tamu-tamu undangan. Meja makan dihiasi bunga-bunga yang beraroma harum. Aneka makanan mengundang selera tersedia dalam bentuk dan warna yang beragam. Semuanya sempurna, kecuali satu hal: tidak ada ikan! Tadi pagi, pelayannya pulang dari pasar dan tidak mendapatkan ikan.

Tuan rumah sedang duduk memikirkan hal tersebut ketika pelayannya masuk menemuinya. Pelayan itu datang dengan seorang pemancing yang membawa tiga ekor ikan besar yang masih hidup. Tuan rumah merasa amat gembira.

“Berapa harga yang kamu minta untuk ikan-ikan ini?” tanya tuan rumah.

“Tuan, ikan-ikan ini menyusahkan saya, baik saat memancingnya maupun ketika membawanya ke hadapan Anda. Karena itu, saya minta harganya tidak lebih dari seratus cambukan,” jawab pemancing.

Tuan rumah merasa heran dengan permintaan ini. Namun pemancing terus mendesak. Tuan rumah akhirnya memerintahkan pengawal untuk mencambuknya, seperti yang diminta.

Ketika sampai pada cambukan kelima puluh, pemancing itu berteriak, “Cukup! Saya telah mengambil bagian saya. Saya punya teman yang berhak mendapat sisanya,” katanya.

“Siapa temanmu?” tanya tuan rumah.

“Teman saya adalah penjaga pintu Anda. Dia tidak memperkenankan saya menemui Anda kecuali saya berjanji akan memberikan separuh bayaran. Panggillah dia dan berikan haknya,” pinta si pemancing.

Tuan rumah sangat marah atas pengkhianatan penjaga pintunya. Ia memerintahkan pengawal untuk mencambuknya sebanyak lima puluh kali. Meskipun penjaga pintu menangis dan memohon ampun, ia tetap dihukum cambuk atas pengkhianatannya. Setelah hukuman dilaksanakan, ia juga langsung dipecat. Balasan yang setimpal untuk orang yang mengkhianati kepercayaan majikannya.

Adapun kepada si pemancing, tuan rumah itu memberikan dua kantong uang. Satu kantong uang sebagai harga ikan-ikannya, satu kantong lagi sebagai hadiah atas kecerdikannya.