23 Mei 2017 09:13:04

Bullying di Sekolah Mengancam Pendidikan Moral Penerus Bangsa

Ilustrasi : maraknya perilaku bullying di lingkungan sekolah membuat cemas berbagai pihak.

Bullying di sekolah telah menjadi fenomena yang meresahkan semua kalangan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk menimba ilmu kini menjadi tempat munculnya bullying di kalangan siswa. Istilah school bullying sendiri diartikan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan untuk menyakiti orang lain. Berdasarkan definisi menurut ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sudah pasti perilaku bullying dilakukan oleh siswa dengan tujuan untuk menyakiti siswa lainnya baik secara fisik maupun psikis.


Faktor Pemicu Perilaku Bullying

Perilaku bullying sendiri sebenarnya dapat berkembang menjadi permasalahan moral. Cara terbaik adalah menghindari faktor-faktor yang bisa memicu munculnya perilaku tersebut. Nyatanya tidak ada faktor tunggal yang menjadi penyebab munculnya bullying. Sebagian besar perilaku bullying muncul karena berbagai faktor yang kompleks. Adapun faktor-faktor yang memicu perilaku bullying adalah sebagai berikut.

1. Keluarga

Pelaku bullying biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah: orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh tekanan, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka kemudian meniru perilaku tersebut terhadap teman-temannya.

2. Sekolah

Pihak sekolah yang mengabaikan perilaku bullying pelaku merasa mendapat penguatan untuk terus melakukan intimidasi terhadap siswa lain. Perilaku bullying yang berkembang pesat dalam lingkungan sekolah juga sering memberikan masukan negatif kepada siswa, misalnya hukuman yang menimbulkan budaya kekerasan sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antarsesama anggota sekolah.

3. Kelompok Sebaya

Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha membuktikan bahwa mereka bisa masuk kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut. Hal ini juga dirasa memiliki nilai eksistensi tersendiri serta dipandang hebat walaupun dalam hati mereka tahu bahwa apa yang dilakukan adalah salah.


Solusi untuk Memutus Mata Rantai Bullying

Karena bullying banyak terjadi di sekolah, maka tugas pendidiklah untuk mencegah dan menghilangkan beragam bentuk bullying. Adapun peran pendidik dalam menghadapi kasus bullying adalah sebagai social support, yaitu sebagai penyelesai masalah sosial yang dilakukan melalui dukungan nyata. Jim Orford (2008) menyebutkan ada lima fungsi dari social support, yaitu:

  1. material (pendukung instrument),
  2. emosi (dukungan pengaruh/perhatian),
  3. harga diri (dukungan nilai),
  4. informasi (dukungan kognisi atau bimbingan), dan
  5. persahabatan (interaksi sosial yang positif).

Ada berbagai cara yang dapat kita lakukan sebagai social support dalam pemberantasan bullying di sekolah. Komite sekolah dapat menyediakan instrument atau alat pendukung seperti pamflet, poster, dan brosur tentang dampak bullying bagi siswa sebagai upaya sosialisasi yang secara langsung atau tidak dapat memengaruhi tindakan siswa. Guru juga dapat memberikan dukungan emosional dengan memberikan perhatian lebih kepada siswa yang rentan menjadi korban bullying, yaitu dengan menciptakan atmosfer persahabatan antara pendidik dan siswa.

Untuk mendukung usaha social support dalam pemberantasan bullying di sekolah, guru dan komite sekolah perlu diberi bekal baik yang bersifat kognitif maupun keterampilan teknis. Pemberian bekal yang bersifat kognitif dapat berupa pengetahuan tentang bullying di sekolah dan dampaknya. Pemberian bekal yang bersifat keterampilan teknis dapat berupa keterampilan membangun relasi, resolusi konflik, serta integritas untuk mencegah perilaku bullying. Dengan berbagai bekal tersebut, diharapkan pendidik dapat mengatasi perilaku bullying antarsiswa agar perilaku negatif ini tidak mengancam pendidikan moral generasi penerus bangsa.