19 Mei 2017 16:22:59

Petani dan Labu

Petani dan Labu

Seorang petani miskin memiliki kebun kecil yang ditanami labu. Petani itu sangat giat bekerja. Setiap pagi ia berangkat dari rumahnya dan kembali sore harinya. Ia terus bekerja keras menggarap tanahnya, berharap tanamannya menghasilkan buah yang baik.

Saat buah labu sudah siap dipetik, petani itu sangat gembira. Ia memanen labunya dengan penuh suka cita. Ketika memanen labu, ia terkejut menemukan labu yang sangat besar. Belum pernah ia melihat labu sebesar itu sebelumnya. Tentu saja ia sangat senang.

Sebagai wujud rasa syukurya, Petani berniat menghadiahkan labu yang sangat besar itu kepada hakim di desanya. Sore harinya, ia mengantarkan labu itu kepada sang hakim. Sambil menyerahkan labu, ia bercerita tentang hasil panen kebun kecilnya.

Hakim menerima hadiah itu dengan senang hati. Ia tahu bahwa bagi petani miskin itu, buah labu tersebut sangat berharga. Sebagai gantinya, hakim juga memberikan sekantong uang kepada petani. Petani itu pulang dengan riang gembira. Hatinya dipenuhi rasa syukur atas anugerah yang ia terima.

Berita tentang petani miskin yang diberi hadiah oleh hakim dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Berita itu terdengar oleh petani kaya yang serakah, yang juga tinggal di desa tersebut. Petani kaya itu iri dengan hadiah yang diperoleh petani miskin.

“Jika aku memberikan kambingku yang paling bagus kepada hakim, ia pasti akan memberiku hadiah yang lebih banyak. Dengan begitu, aku mendapat keuntungan yang lebih besar dibanding harga kambing itu,” katanya dalam hati.

Petani kaya itu pun menemui hakim dengan membawa kambingnya dan menyerahkannya sebagai hadiah. Tapi hakim itu menolak pemberiannya, sebab sudah mengetahui ketamakan petani tersebut. Namun petani kaya itu terus memaksa hakim agar mau menerima kambingnya.

“Kamu terus memaksaku menerima hadiahmu. Baiklah, aku terima. Aku akan memberimu sesuatu yang nilainya melebihi kambingmu,” kata hakim itu sambil masuk ke dalam.

Petani kaya itu sangat senang mendengar ucapan hakim. Ia membayangkan hadiah yang akan ia terima pasti lebih banyak daripada harga kambingnya.

Hakim itu keluar sambil membawa labu yang sangat besar. Diserahkannya labu itu kepada petani kaya sambil berkata, “Ini hadiah untukmu. Terimalah.”

Kegembiraan petani kaya itu seketika berubah menjadi kekecewaan. Dengan terpaksa, ia menerima labu itu dan pulang. Sepanjang jalan ia menggerutu karena merasa rugi dengan kambingnya.