16 Mei 2017 10:30:04

Laba-Laba dan Lalat

Laba-Laba dan Lalat

Seekor laba-laba tengah mengintai mangsa. Ia menunggu serangga yang masuk ke dalam perangkap jaringnya. Dilihatnya seekor lalat terbang mendekat. Tampaknya lalat itu baru saja pulang dari mencari makan.

Dengung suara lalat terdengar seperti nyanyian merdu bagi Laba-Laba. Sambil menahan liurnya, Laba-Laba keluar dan menyapa Lalat dengan wajah yang berseri-seri.

“Selamat datang wahai makhluk cantik yang kedatangannya sangat kunantikan,” kata Laba-Laba.

Mendengar sambutan Laba-Laba, Lalat bersikap waspada. Ia tahu betul bahwa Laba-Laba suka menangkap serangga dan mengisap darahnya.

“Apa maumu dengan sambutan ini? Menyakiti makhluk yang lemah? Aku tahu, pasti kamu sedang bersiap manyantapku. Aku tidak akan tertipu,” sahut Lalat.

Laba-Laba menyadari kecurigaan Lalat. Ia sendiri tidak ingin maksud jahatnya ketahuan. Maka ia berusaha menunjukkan sikap yang manis agar Lalat mau mendekat.

“Duhai Lalat yang bermata indah. Aku tahu, kata-katamu itu pasti dibisikkan oleh orang yang hatinya penuh kedengkian. Jangan dengarkan mereka yang tidak ingin kita berteman. Singgahlah di rumahku, nikmati jamuan yang sudah kusiapkan.” rayu Laba-Laba.

“Tidak. Aku tidak akan mendatangi rumahmu. Aku tahu, kamu akan menghisap darahku begitu aku masuk ke dalam perangkapmu.” tegas Lalat.

Laba-Laba tidak menyerah. Ia terus berusaha membujuk Lalat agar masuk ke dalam rumah jaringnya. Kali ini Laba-Laba merayu Lalat dengan pujian setinggi langit. Ia sudah sering melakukannya pada serangga-serangga yang ia mangsa. Biasanya, mereka tidak tahan kalau dipuji dan akhirnya terperangkap.

“Oh, Lalat cantik bermata indah.” Laba-Laba memulai rayuannya. “Ternyata engkau tidak hanya berparas cantik, tapi juga berakal cerdas. Sayangnya engkau telah menerima omongan-omongan dari orang-orang yang dengki sehingga menjadi buruk sangka. Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk singgah di rumahku. Selamat jalan, kawan!” kata Laba-Laba. Wajahnya tampak sedih.

Melihat Laba-Laba yang tampak tulus, Lalat merasa menyesal.

“Wahai Laba-Laba yang baik, pujianmu sungguh sangat indah. Perkenankan aku meminta maaf kepadamu atas sikapku yang penuh curiga dan buruk sangka.” kata Lalat.

Laba-Laba tahu bahwa Lalat sudah hampir masuk ke dalam perangkapnya. Pujiannya berhasil membuat Lalat terlena.

“Tentu saja aku memaafkanmu, wahai Lalat yang baik,” kata Laba-Laba. “Sekarang mari kita saling bersalaman agar tidak ada lagi dendam dalam hati kita.”

Laba-Laba mengulurkan tangannya. Lalat yang sudah terpengaruh oleh pujian pun mengulurkan tangannya. Mereka bersalaman. Erat sekali.

Laba-Laba menyeringai. Wajahnya sudah tidak tampak sedih lagi. Juga tidak ada lagi senyum manis di bibirnya. Yang ada senyum licik. Ia puas berhasil memperdaya Lalat.

Melihat seringai Laba-Laba, Lalat sadar bahwa ia telah diperdaya. Ia ingin kabur, namun sudah terlambat. Laba-Laba mencengkeram tangannya kuat sekali. Lalat berusaha melepaskan diri tetapi tidak berhasil. Dalam sekejap, tubuhnya sudah diselimuti benang putih yang lengket.

Laba-Laba tertawa sambil membawa tubuh Lalat ke dalam sarangnya.

HATI-HATILAH DENGAN PUJIAN. JIKA KAMU MENERIMA PUJIAN DARI ORANG YANG HENDAK MENGUASAIMU DALAM KEJAHATAN, KAMU AKAN CELAKA.