13 Mei 2017 08:13:56

Singa dan Tikus

Singa dan Tikus

Suatu sore, Singa sedang tidur ketika seekor tikus datang dan berjalan di atas kepalanya. Singa terbangun dengan marah. Ditangkapnya tikus malang itu. Singa bermaksud menghukum Tikus karena telah mengganggu tidurnya. Tikus menangis tersedu dan mengiba.

“Tolonglah hamba, wahai Raja Rimba yang perkasa,” tangis Tikus. “Janganlah Tuan membunuh hamba yang hina ini. Kasihan anak-anak hamba, mereka masih kecil-kecil. Kalau hamba mati, siapa yang akan memberi mereka makan?”

Mendengar tangisan Tikus, Singa merasa iba. Ia pun melepaskan Tikus sambil bersungut-sungut.

“Pergilah kau, tikus kecil!” sungut Singa. “Pergilah cepat, sebelum aku berubah pikiran!”

Tikus merasa sangat senang nyawanya selamat. Ia berterima kasih kepada Singa yang telah mengampuninya. Sambil berpamitan, ia berjanji suatu saat akan melakukan sesuatu yang berguna bagi Singa.

“Terima kasih, Tuan Raja. Untuk membalas kebaikan Tuan, suatu saat hamba akan menolong Tuan jika dibutuhkan.” kata Tikus sambil beranjak pergi.

Tidak disangka, Singa tertawa terbahak-bahak.

“Hahahaaaa… Menolongku? Kamu tikus kecil menolong Raja Rimba yang perkasa? Yang benar saja! Hahahahaaaaa…”

Keesokan harinya, Singa sedang berjalan sendirian ketika dilihatnya seekor kambing yang gemuk tampak terikat di sebatang pohon. Kambing itu tak berhenti mengembik, seolah mengundangnya untuk datang menerkam. Embikan kambing itu membuat perutnya terasa sangat lapar. Air liurnya menetes membayangkan daging empuk yang sangat lezat.

Singa tidak menyadari bahaya yang mengintainya. Perlahan, didekatinya kambing itu. Setelah jarak antara dirinya dan kambing cukup dekat, Singa melompat dengan tangkas. Cakarnya yang setajam pisau keluar dari balik jari-jari kakinya, siap merobek tubuh kambing yang malang.

Tidak disangka, saat tubuh Singa melompat, tiba-tiba sebuah jaring muncul di hadapannya. Entah bagaimana, tahu-tahu Singa sudah terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh para pemburu. Ia mencoba melepaskan diri dengan cara meronta-ronta. Tapi semakin kuat ia meronta, perangkap itu seakan semakin kuat menjeratnya.

Singa ketakutan setengah mati. Ia membayangkan tubuhnya disayat-sayat pisau pemburu, lalu kulitnya diambil untuk dijadikan jaket atau topi. Ia memang pernah mendengar bahwa manusia suka memburu harimau dan singa untuk diambil kulitnya. Atau terkadang diawetkan untuk dijadikan hiasan di rumah orang-orang kaya.

Dengan sekuat tenaga, Singa berteriak dan mengaum. Ia berharap teriakannya didengar oleh penduduk hutan dan ada yang menolongnya. Sebenarnya Singa sangat malu, sebab selama ini ia dikenal sebagai binatang yang perkasa dan suka memangsa binatang lain yang lemah. Tapi apa boleh buat.

“Daripada dibunuh manusia, lebih baik aku menjerit meminta tolong,” pikir Singa. Sekali lagi ia berteriak dan mengaum keras. Kali ini aumannya dibuat lebih memilukan. Ia berharap ada binatang yang merasa kasihan kepadanya.

Tak seberapa jauh dari tempat itu, Tikus sedang bersantai dengan keluarganya. Ia mendengar auman Singa dengan cukup jelas. Segera saja Tikus menyadari bahwa Singa dalam bahaya dan butuh pertolongan.

Tikus bergegas menuju asal suara. Sesampainya di sana, dilihatnya Singa terjerat perangkap pemburu.

“Jangan khawatir, aku akan menolongmu,” katanya.

“Bagaimana kamu akan menolongku,” teriak Singa, “sedangkan aku yang perkasa saja tidak berdaya di dalam perangkap ini?”

Singa terus berteriak dan mengaum, berharap binatang lain yang lebih kuatlah yang datang menolongnya. Mungkin Gajah, Kerbau, atau Serigala. Bukan Tikus, binatang yang lemah.

Tikus tidak peduli dengan teriakan Singa yang meremehkan dirinya. Dengan gigi-giginya yang tajam, ia mulai menggigiti tali yang menjerat Singa. Binatang pengerat itu terus menggigiti tali hingga putus. Akhirnya, Singa pun keluar dengan selamat.

Singa merasa sangat malu telah meremehkan Tikus. Ternyata hari itu Tikuslah yang menyelamatkan hidupnya.

“Terima kasih, Tikus. Kamu telah menyelamatkan aku. Aku tidak mengira hewan lemah sepertimu dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat kulakukan,” kata Singa.

“Sama-sama, Tuan Raja.” jawab Tikus.

Sejak saat itu, Singa tidak lagi bersikap sombong dan meremehkan binatang yang lebih lemah darinya. Ia sadar bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan dengan kelebihan masing-masing.

Jangan pernah memandang remeh orang lain, sebab setiap orang memiliki keistimewaan yang tidak engkau miliki.