04 Mei 2017 14:01:38

Pentingnya Menanamkan Budi Pekerti pada Anak

Pentingnya Menanamkan Budi Pekerti pada Anak

Perilaku anak yang kurang baik semakin sering kita temui sekarang. Beberapa anak bahkan berani berkacak pinggang sambil berteriak kepada orang tuanya. Ketika anak mulai berani berteriak,“Aku benci Mama dan Papa!”, berati anak mulai menggunakan bahasa provokatif kepada orang tua. Komunikasi provokatif adalah segala pernyataan atau isyarat tubuh dari seorang anak yang terlihat tidak sopan, tidak pantas menyakitkan, bahkan kurang ajar (Don Fleming dan Mark Ritts, 2009). Perilaku ini mencerminkan minimnya nilai budi pekerti yang diterapkan oleh anak.

Budi pekerti merupakan bagian dari perkembangan emosi, sosial, dan moral pada anak. Pentingnya menanamkan budi pekerti pada anak  sangatlah penting, seiring dengan maraknya kasus kekerasan pada anak, seperti bullying. Semakin rendahnya nilai budi pekerti dalam diri anak tentu bukan tanpa sebab. Tayangan yang berkonten kekerasan baik fisik maupun verbal kini semakin marak, terlebih tayangan tersebut ditampilkan di jam belajar. Tuntutan orang tua terhadap prestasi akademik yang semakin tinggi membuat penanaman budi pekerti menjadi terlupakan. Ditambah lagi, di sekolah dan bimbingan belajar anak hanya disibukan oleh kegiatan belajar untuk mengejar prestasi akademik namun pengajaran budi pekerti seperti disepelekan.

Fenomena rendahnya budi pekerti ini perlu segera dicegah dan diatasi. Peran orang tua dalam menanamkan budi pekerti pada anak harus dimulai sejak dini. Fondasi budi pekerti yang dibangun sejak dini akan mengokohkan pemahaman anak pada budi pekerti serta penerapannya di kehidupan sehari-hari. Anak kelak mampu membedakan yang baik serta yang buruk sebelum terkontaminasi oleh pengaruh yang merusak dari luar.

Karena anak banyak menghabiskan waktu dengan orang tua, maka orang tualah yang pertama ditirukan anak. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan orang tua untuk berperan mendidik anak dengan memberikan contoh yang baik. Kita bisa membantu mendorong perkembangan mental anak dengan memberikan penghargaan, pujian, dan kasih sayang. Hal ini sangat membantu anak dalam perkembangan emosi dan hubungan sosialnya (Prasetyono, 2008). Misalnya, berikan pujian kepada anak untuk setiap kegiatan positif dan pencapaiannya. Pujian merupakan salah satu penghargaan bagi anak sehingga dapat memotivasinya untuk lebih mempercayai kemampuannya dan bekerja keras guna mendapatkan hasil terbaik. Selain itu, menghadirkan suasana dalam rumah yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling menghargai akan memunculkan budi pekerti pada anak dengan sendirinya.

Peran orang tua sebagai filter informasi juga tidak boleh dilewatkan. Orang tua bisa memilihkan informasi serta media yang pantas untuk anak dan yang belum pantas. Patut disayangkan jika orang tua tidak pernah mau peduli dengan sikap dan gaya hidup anak. Padahal tanpa disadari, orang tua sendiri sesungguhnya ikut mendorong anaknya membentuk sikap dan gaya hidupnya (Sunartyo, 2008). Sangat penting diperhatikan orang tua, anak tidak akan menerima nasehat belaka tanpa kita mencontohkan. Oleh karena itu, kita perlu berusaha memberikan contoh nyata sambil terus memberikan nasehat yang baik pada anak dengan harapan anak-anak kita akan menjadi generasi cerdas dan berbudi.