02 Mei 2017 11:04:25

Peran Strategis Pendidikan di Tengah Arus Budaya Global

Peran Strategis Pendidikan di Tengah Arus Budaya Global

Menurut Malcolm Waters, dimensi utama globalisasi ada tiga, yaitu globalisasi ekonomi, globalisasi politik, dan globalisasi budaya (Narmoatmojo, 2010: 6). Globalisasi ekonomi antara lain melahirkan era perdagangan bebas, di mana aktivitas perdagangan melintasi batas teritorial kenegaraan. Hasil panen petani apel di Malang harus siap bersaing dengan apel dari Thailand atau Cina. Ketika Arab Saudi menaikkan harga minyak mentah, pemerintah Indonesia akan mengkaji ulang kebijakan subsidi BBM. Begitu seterusnya.

Dalam bidang politik, dampak dari globalisasi sama signifikannya. Sikap politik pemerintah suatu negara, di era globalisasi politik ini, tidak dapat mengabaikan sikap politik negara-negara lain. Bukan suatu kebetulan bila seorang presiden mempertimbangkan aspek keberterimaan ketika memilih calon menteri, sebab keberterimaan seorang tokoh politik suatu negara di mata negara lain akan berpengaruh terhadap hubungan kedua negara.

Dari semua itu, yang patut memperoleh perhatian lebih besar tentulah globalisasi budaya, sebab pada wilayah inilah pendidikan memainkan perannya secara signifikan. Bukankah makna pendidikan, seperti dikemukakan oleh banyak ahli, berhubungan dengan upaya mengantarkan manusia menuju kesempurnaannya?

Hakikat Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai upaya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dalam UU Sisdiknas No. 20/2003, pendidikan didefinisikan sebagai ”usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Tujuannya adalah ”berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Hakikat pendidikan terkait dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Paulo Freire mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah penyadaran diri peserta didik akan dirinya, orang lain, dan masyarakat sekitarnya (Miller, 2002: 3). Pendidikan berhubungan dengan upaya mengembangkan potensi manusia menjadi manusia yang sempurna.

Dengan orientasinya yang menyeluruh itulah maka pendidikan lebih dari sekadar pengajaran, karena pengajaran hanya proses transfer pengetahuan, sedang pendidikan meliputi transfer pengetahuan sekaligus transformasi nilai. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan karakter peserta didik di samping transfer ilmu dan keterampilan.

Pendidikan sebagai Benteng Budaya

Saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi persoalan budaya yang sangat serius, di mana budaya bangsa makin tergerus banjir budaya global yang dibawa oleh teknologi. Pada pendidikanlah kita bisa berharap budaya bangsa ini tidak habis terkikis. Tentu pendidikan dalam tiga ranahnya, yang disebut oleh Ki Hajar Dewantara sebagai tripusat pendidikan, termasuk sekolah.

Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus dioptimalkan, agar peran pendidikan sebagai benteng budaya lebih efektif. Program-program pembangunan karakter, seperti program PPK (penguatan pendidikan karakter) yang digulirkan oleh Kemdikbud, penting untuk digalakkan. Anak-anak harus dilindungi dari budaya yang buruk, kalau bisa dalam 1x24 jam waktunya.

Lembaga pendidikan seperti sekolah harus menjadi garda terdepan dalam upaya mempertahankan budaya bangsa. Sebab arus budaya global semakin deras, dan pendidikanlah harapan kita dapat bertahan. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Diadaptasi dari buku Mendidik Generasi Bangsa (2012)