29 April 2017 11:29:00

Benarkah Galak Bisa Bikin Berwibawa?

Benarkah Galak Bisa Bikin Berwibawa?

Banyak orang mengira sikap galak bisa membuat anak menaruh hormat kepada guru. Kalau guru terlalu lembek, maka anak akan ngelonjak, kata mereka. Namun, lagi-lagi, kita harus berpikir bahwa yang kita inginkan adalah penghormatan yang sebenarnya dari para siswa. Bukan penghormatan yang semu: di kala ada guru, para siswa menjadi sangat taat; ketika guru pergi, mereka kembali melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Kebanyakan sikap galak muncul ketika guru mencoba untuk menutupi sebuah kekurangan, baik kekurangan diri maupun kekurangan sistem di sekolahnya. Marah karena merasa dirinya tersinggung adalah bentuk menutupi kekurangan diri. Apa pun alasannya, ketika emosi guru meledak dan melahirkan kemarahan, maka itu sudah merupakan bukti akan ketidakmampuannya mengendalikan diri. Ketidakmampuan inilah yang harus ditutup-tutupi di hadapan siswa dalam bentuk sikap galak.

Ada pula guru yang tersinggung karena ada muridnya yang memprotes hukuman yang ia berikan. Sang murid mempertanyakan peraturan mana yang membuatnya menjadi terhukum. Karena dalam pandangannya tidak ada peraturan sekolah yang menyentuh persoalan tersebut, tetapi tahu-tahu ia dianggap melanggar dan terkena hukuman. Sebenarnya ini adalah sebuah kekurangan atau kelemahan, yakni kelemahan sistem. Secara refleks, seorang guru biasanya akan berusaha menutup-nutupi kekurangan ini. Dan agar usahanya itu bisa berhasil, maka diselimutilah upayanya itu dengan sikap galak.

Lebih parah lagi, sikap galak sebenarnya tidak bisa digunakan untuk sekadar melahirkan rasa takut pun. Juga untuk sekadar mewujudkan sikap hormat yang semu. Tidak ada jaminan. Ada banyak guru yang tetap ditertawakan oleh para muridnya di saat ia marah. Semakin guru ini marah, semakin geli anak-anak di belakang sana.

Kondisi seperti ini lebih merugikan lagi. Sebab, untuk guru semacam ini, anak-anak dengan tipikal tertentu malah tertarik untuk selalu mengerjai. Mereka akan menyeringai puas ketika berhasil membuat guru itu marah. Dan sang guru pun semakin kehilangan akal untuk mengatasi suasana semacam itu. Marah atau tidak marah, sama saja. Anak-anak sulit ditenangkan dan dikendalikan.

Jadi, percayalah bahwa kebanyakan sikap galak seorang guru tidak akan melahirkan wibawa. Mungkin di artikel lain akan disampaikan bagaimana memosisikan sikap marah untuk mendukung pendidikan. Itu pun harus diikuti dengan kesadaran bahwa, tetap saja, kebanyakan dari sikap marah tidak akan melahirkan wibawa.

Efek galak adalah rasa hormat semu. Atau bahkan rasa takut semata. Sebaliknya, rasa hormat yang sebenarnya hanya akan terlahir dari sebuah pengakuan murid terhadap kelebihan gurunya, baik kelebihan yang lahir dari karisma maupun yang terlahir dari performa. Dan itulah pilar dasar wibawa.

Sumber tulisan: Super Teacher (2010), dengan sedikit perubahan