18 Oktober 2018 08:44:06

Menggiatkan Literasi Dasar dengan Program Inovasi di Daerah 3T

Program Inovasi bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di sekolah-sekolah di berbagai kabupaten di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa dalam Gerakan Literasi Nasional terdapat enam bentuk literasi dasar (basic literacy), yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan. Gerakan Literasi Nasional telah digiatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2016. Khusus untuk daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), upaya peningkatan literasi dasar dilakukan melalui program Inovasi (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia). Program ini merupakan kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Australia.

Mengenal Program Inovasi

Program Inovasi bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di sekolah-sekolah di berbagai kabupaten di Indonesia. Upaya ini khususnya berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi. Sejumlah daerah yang mengikuti program ini adalah Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Setelah melewati sejumlah tes uji pengetahuan dan kemampuan, terutama kemampuan literasi dan numerasi dasar, siswa di Indonesia ternyata belum bisa menandingi rekan dari negara lain. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pendekatan khas yang diadopsi dari Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Pendekatan ini dikembangkan oleh Harvard University.

Dengan pendekatan ini, program Inovasi bekerja dan memetik pelajaran dari mitra yang ada di daerah untuk melakukan eksplorasi dan identifikasi terhadap tantangan di daerah. Setelah itu, membuat rancangan solusi yang relevan dengan konteksnya.

Program Rintisan Inovasi

Program Inovasi telah dilaksanakan di sejumlah daerah. Program rintisan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi terutama di kelas-kelas awal Sekolah Dasar (SD). Program rintisan tersebut diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan. Tujuannya adalah untuk memperkuat praktik pengajaran di ruang kelas, meningkatkan dukungan kepada guru, dan memastikan anak dapat belajar sesuai potensinya.

Program rintisan Inovasi diharapkan dapat mengatasi permasalahan utama yang telah diidentifikasi di daerah sekaligus sesuai dengan kebijakan nasional. Program ini diimplementasikan melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) dan dievaluasi untuk melihat hasilnya.

Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal)

Dalam sembilan agenda prioritas atau Nawacita dari pemerintah, pembangunan diarahkan mulai dari daerah pinggiran. Daerah yang termasuk pinggiran dikenal dengan istilah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Ada 122 kabupaten/kota yang termasuk di dalamnya. Sejumlah 18 kabupaten ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), empat di antaranya berada di Pulau Sumba.

Berdasarkan fakta tersebut, Kemendikbud pun mulai melakukan pembangunan dari daerah 3T, yaitu dimulai dengan meningkatkan layanan pendidikan, termasuk membangun sumber daya manusia (SDM). Di daerah Sumba, NTT, misalnya, salah satu tantangan pendidikan yang harus dihadapi adalah tingginya angka mengulang kelas di kelas 2 SD. Selain itu, siswa kelas 2 SD diketahui mengalami kesulitan membaca.

Sesuai dengan konsep yang dikembangkan dalam Program Inovasi, ada empat program rintisan yang dilakukan, yaitu Guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual) di Sumba Barat Daya, Kepemimpinan yang Berpihak pada Pembelajaran di Sumba Barat, Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI) di Sumba Timur, dan Peningkatan Kualitas Pengajaran Literasi Dasar di Sumba Tengah. Empat program ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa.

Baca juga: Yuk, Kenali 6 Literasi Dasar dalam Gerakan Literasi Nasional!.