21 April 2017 09:02:48

Perjuangan Kartini untuk Edukasi dan Literasi Wanita

Perjuangan Kartini untuk Edukasi dan Literasi Wanita

Kartini adalah seorang pejuang wanita yang menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan dan emansipasi wanita di Indonesia. Setiap tahun di hari kelahirannya diperingati untuk mengenang perjuangan beliau semasa hidupnya. Raden Ajeng Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah merupakan wanita yang tangguh. Pada masa itu, diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sangat terlihat, salah satunya dengan tidak memperbolehkan wanita mengenyam pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Kartini adalah salah satu wanita yang berjuang untuk mendapatkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan. 
Selepas mengenyam pendidikan dasar di Europese Lagere School (ELS) pada usia 12 tahun, ia tidak bisa melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Kultur budaya memaksanya untuk diam di rumah dan mempersiapkan diri untuk menikah. Tidak menyerah sampai disitu, Kartini bersikeras ingin tetap belajar sehingga dia berkenalan dengan seorang wanita Belanda bernama Rosa Abendanon. Kepada Rosa Abendanon, Kartini bertukar surat berbahasa Belanda untuk menuangkan gagasannya soal pendidikan dan wanita. Korespondensi dengan Rosa Abendanon membuat Kartini dapat mengetahui pola pikir wanita-wanita Eropa yang sangat maju, suatu hal yang tidak dia temui di negaranya.  
Pada tanggal 12 November 1903 Kartini akhirnya menikah dengan Bupati Rembang yang sudah memiliki istri. Masa setelah pernikahan justru menjadi titik balik perjuangannya. Mendapat suami yang mendukung perjuangannya untuk mengenalkan pentingnya pendidikan bagi wanita merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Kartini bahkan diperbolehkan membangun sebuah sekolah khusus wanita pribumi. Sebuah langkah yang sangat besar mengingat hal yang dilakukannya bertentangan dengan nilai yang dianut kebanyakan orang. Sayangnya, perjuangan Kartini harus berakhir ketika ia melahirkan anak pertamanya. Kartini meninggal pada usia 25 tahun, dan dimakamkan di Rembang. 
Setelah Kartini tiada, Rosa Abendanon membukukan seluruh karya Kartini dalam bahasa Belanda dan diberi nama Door Duisternis tot Licht atau dalam bahasa Indonesia diartikan Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Lalu, pada tahun 1922 buku tersebut dialih bahasakan menjadi Bahasa Melayu yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Terbitnya buku tersebut merupakan salah satu usaha untuk terus mengenang perjuangan Kartini sebagai pejuang edukasi dan literasi wanita. Atas perjuangan Kartini, sekarang hampir seluruh wanita Indonesia bisa mendapatkan tempat setara dengan laki-laki terutama dalam bidang pendidikan.