30 Agustus 2018 09:06:02

Guru Dilarang Memberikan PR kepada Siswa, Ini Alasannya

Kontroversi mengenai larangan guru memberikan PR kepada siswa yang bertujuan agar siswa dapat memiliki waktu luang untuk berinteraksi bersama keluarga.

Pekerjaan rumah atau PR yang diberikan guru untuk siswa merupakan sebuah tugas berupa soal-soal untuk dikerjakan dirumah. Tujuan guru memberikan PR kepada siswa yaitu untuk memberikan motivasi agar siswa dapat mengulang pelajaran atau belajar di rumah. Akan tetapi, pada saat ini terdapat kontroversi mengenai larangan guru memberikan PR kepada siswa. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat memiliki waktu luang untuk berinteraksi bersama keluarganya di rumah. Dengan itu, siswa dapat membentuk karakter di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Kontroversi tersebut sempat menjadi perbincangan serius, khususnya di dunia maya. Banyak pihak yang tidak setuju atas larangan tersebut, karena menurutnya PR dapat memberikan motivasi siswa untuk belajar dirumah. Akan tetapi tidak sedikit pula yang bersyukur karena merasa memiliki waktu luang untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sebagian orangtua bahkan menganggap PR sebagai beban yang berpotensi membuat anak kehilangan masa-masa bermain yang penting.

Model PR Konvensional VS PR Modern

Dalam hal ini, model pemberian PR konvensional dengan PR modern memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Bukan hanya pada makna, tetapi juga penerapannya. PR konvensional lebih sering dimaknai sebagai tugas yang bersifat akademis yang harus dikerjakan di rumah, dan jika tidak dikerjakan akan mendapat sanksi. Sementara itu, PR modern berupa tugas aplikatif yang dapat menjadi peluang sebagai media komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak, selain untuk memperdalam bahan yang dipelajari.

Bagaimanapun, orangtua tidak boleh melepaskan diri dari tanggung jawab untuk mendidik anak. Selain itu, pendidikan di rumah harus sinkron dengan pendidikan di sekolah. Pada akhirnya, guru harus memiliki cara tersendiri yang kreatif untuk menilai hasil PR atau memantau siswa yang tidak mengerjakannya. Sistem sanksi dianggap sudah kuno atau bahkan tidak sesuai dengan makna pemberian PR itu sendiri. Namun, memberikan reward atau penghargaan kepada mereka yang berhasil melaksanakannya dianggap lebih efektif.

Dampak Negatif Pemberian PR

Dampak ini akan semakin buruk jika tidak segera diselesaikan. Karena itu, jalan tengah yang masuk akal adalah menentukan kriteria PR yang ideal untuk anak demi perkembangan kecerdasannya, baik secara intelektual maupun emosional. Berikut dampak-dampak yang ditimbulkan akibat pemberian PR.

1. Takut ke Sekolah

Hal ini biasa terjadi jika guru melakukan disiplin dengan cara memberikan hukuman yang tidak mendidik. Mengapa anak tidak mengerjakan PR? Alasannya beragam dan tidak bisa dipukul rata. Ada anak yang memang tidak senang (malas) mengerjakannya, tetapi ada pula karena alasan-alasan lain yang tidak bisa dihindari.

2. Memicu Kebiasaan Menyontek

Jika tidak bisa menyelesaikannya, anak akan menghalalkan cara untuk menyelesaikan PR. Salah satunya dengan menyontek PR teman. Jika ini yang terjadi, makna pemberian PR sudah melenceng dan tidak tercapai. Dampak akhirnya, ketika menjalani ujian, anak tidak tahu apa-apa.

3. Mengalami Stres

Sebagian anak merasakan stres karena PR dianggap terlalu banyak atau berat. Akibatnya, proses belajar menjadi tidak lagi efektif. Bukan memahami pelajaran dengan baik, anak justru terbebani sehingga malas untuk belajar.

4. Tidak Bersosialisasi

Anak tidak memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan keluarga atau lingkungan bermain. Akibatnya, anak menjadi terkungkung, lebih senang menyendiri, dan mengalami kemunduran dalam kecerdasan sosial.