28 Agustus 2018 09:54:31

Inilah Panduan Menjadi Sekolah Siaga Bencana

Mitigasi Bencana di Sekolah Dasar.

Bencana merupakan suatu peristiwa yang mengancam dan menganggu kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam maupun non alam. Bencana yang terjadi di Indonesia seperti gempa bumi telah menimbulkan dampak yang cukup besar pada berbagai sektor seperti sektor pendidikan. Namun, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak bencana tersebut. Upaya ini dikenal dengan istilah mitigasi bencana.

Dalam hal ini, satuan pendidikan, yaitu sekolah, juga perlu berperan aktif dalam mitigasi bencana. Untuk menjadi sekolah yang siaga bencana, ada panduan membangun sekolah siaga bencana yang disusun oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Panduan tersebut diharapkan bisa menjadi acuan untuk mengurangi dampak risiko bencana di sekolah.

Membangun Sekolah Siaga Bencana

Sekolah Siaga Bencana merupakan upaya membangun kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana alam. Langkah pertama yang harus dilakukan sesuai panduan sekolah siaga bencana dari LIPI adalah tahap persiapan. Dalam tahap ini, ada empat aspek penting yang harus dilakukan, yaitu pemilihan sekolah, penilaian kesiapsiagaan struktur sekolah, penilaian kesiapsiagaan nonstruktur sekolah, dan penyusunan rencana aksi sekolah untuk pengurangan risiko bencana.

Langkah kedua adalah pelaksanaan pembangunan. Dalam hal ini, kesiapsiagaan struktur sekolah, seperti struktural, arsitektural, perabotan dan isinya, peralatan pendukung lain, sangat penting. Demikian pula kesiapsiagaan nonstruktural, seperti pengetahuan dan sikap, kebijakan dan panduan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan bencana, dan mobilisasi sumber daya harus disiapkan.

Membuat Kurikulum Siaga Bencana

Untuk memberikan pemahaman dan pelatihan kepada siswa sekolah dasar tentang gempa bumi, dampak serta cara penyelamatan diri maka diberikan kegiatan mitigasi bencana alam gempa bumi. Dalam pemberian materi tanggap bencana gempa bumi kepada siswa SD digunakan kurikulum pendidikan mitigasi bencana alam gempa bumi. Cara pelaksanaan pelatihan terdiri atas materi teoritis berupa pemahaman siswa terhadap gempa bumi, cara melakukan mitigasi, dan prosedur pertolongan pertama korban gempa bumi, serta materi praktik berupa cara melakukan mitigasi diri sendiri dan orang lain. Standar kompetensinya adalah memahami hakikat gempa bumi, akibat yang ditimbulkan, dan cara mitigasi bencana gempa bumi. Selanjutnya, siswa dapat melakukan simulasi sederhana ketika terjadi gempa bumi.

Metode pembelajaran yang bisa dilakukan adalah melakukan diskusi kelompok, tanya jawab, ceramah, dan pemberian tugas. Dalam hal ini, terdapat beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan oleh para siswa dalam menindaklanjuti kegiatan pembelajaran, yaitu menulis nomor telepon keluarga, menyiapkan, mencari informasi melalui media massa, mengetahui jalan dan tempat yang aman untuk berlindung, dan sebagainya. Selanjutnya, bisa dilakukan evaluasi berupa tes tertulis berupa pengetahuan umum tentang gempa bumi. Tujuan mempelajari pengetahuan ini adalah untuk membekali para siswa tentang potensi bencana yang akan terjadi. Dengan memasukkan kegiatan pembelajaran tentang siaga bencana dalam kurikulum sekolah, dapat dibangun sekolah siaga bencana BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang lebih ideal.