20 Agustus 2018 13:20:55

Kendala yang Sering Dihadapi Guru Saat Menulis Rapor Kurikulum 2013

Penulisan rapor Kurikulum 2013 menjadi kendala setiap guru.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kurikulum 2006). Kurikulum ini mulai diterapkan di beberapa sekolah sejak tahun ajaran 2013/2014. Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia di Indonesia agar menjadi warga negara yang lebih baik. Kurikulum 2013 menekankan pengembangan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara seimbang. Kompetensi pengetahuan, keterampilan, serta sikap ditagih dalam rapor dan merupakan penentu kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik.

Dalam menyusun rapor kurikulum 2013, ada aturan khusus yang harus dipatuhi oleh guru. Format penulisan rapor KTSP dan Kurikulum 2013 sangatlah berbeda. Dalam penyajian rapor KTSP penilaiannya kuantitatif dan isinya menekankan pada aspek pengetahuan (kognitif). Namun, untuk rapor Kurikulum 2013 penilaiannya berupa deskriptif. Dalam rapor Kurikulum 2013 terdapat tiga aspek yang dinilai yaitu penilaian pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Dalam pelaksanaanya, penulisan rapor yang sesuai dengan Kurikulum 2013 kerap menimbulkan kesulitan bagi para guru.

Apa Saja Kendala yang Dialami?

Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, ada beberapa kendala yang kerap dialami oleh para guru. Kesulitan guru dalam penerapan Kurikulum 2013 antara lain dalam hal merencanakan, melaksanakan, mengolah, memanfaatkan, dan melaporkan penilaian prestasi belajar siswa. Pada tahap perencanaan penilaian, misalnya, guru kerap mengalami kendala dalam hal merumuskan indikator yang menentukan penilaian. Guru juga menghadapi kesulitan dalam menentukan teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar yang diajarkan serta ketika mengembangkan butir-butir instrumen dan rubrik penilaian.

Selain itu, kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaannya adalah pada proses penilaian sikap. Karena waktu yang terbatas, penilaian ini dianggap kurang optimal. Kendala juga terjadi ketika guru mengolah atau mendeskripsikan hasil penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Di sisi lain, sekolah mengalami kesulitan ketika menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan merumuskan kriteria kenaikan kelas serta kriteria kelulusan peserta didik. Hal ini membuat para guru kesulitan menentukan nilai hasil remedial.

Perlunya Panduan yang Tepat

Penerapan Kurikulum 2013 tampaknya belum diikuti dengan kesiapan guru dalam pelaksanaannya, terutama ketika melakukan penilaian. Meskipun demikian, karakteristik dan tujuan yang ingin dicapai oleh Kurikulum 2013 tidak perlu diragukan lagi manfaatnya. Dalam Kurikulum 2013, secara umum menjabarkan kompetensi inti yang perlu dicapai oleh siswa di setiap kelas. Kompetensi tersebut meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Jadi, kelulusan atau prestasi siswa tidak hanya diukur dari kecerdasan akademisnya.

Perbedaan yang sangat signifikan inilah yang menyebabkan para guru harus ekstra berupaya, terutama dalam merumuskan penilaian terhadap siswa. Untuk mengatasinya, para guru bisa memanfaatkan dokumen Panduan Penilaian di Sekolah Dasar Edisi Revisi Tahun 2016. Adanya panduan penilaian yang lengkap tersebut diharapkan bisa menjadi acuan yang berguna.

Penerapan penilaian prestasi belajar siswa dalam lingkup Kurikulum 2013 memang berbeda. Meskipun panduannya telah tersedia, guru diharapkan mampu mengembangkan sendiri penilaian berdasarkan karakteristik siswa dan sekolah yang bersangkutan. Beredar pula aplikasi rapor K-13 SD yang dibuat untuk memudahkan guru dalam mengisi penilaian rapor. Namun, berhasil tidaknya seorang guru menyelesaikan kendala tersebut tidak lepas dari kesungguhan serta pihak pendukung lainnya.

Untuk mengunduh Panduan Penilaian di Sekolah Dasar Edisi Revisi Tahun 2016 bisa klik di sini