23 Juli 2018 11:56:04

Menilik Komitmen Memutus Mata Rantai Kekerasan terhadap Anak pada Hari Anak Nasional

Momentum Hari Anak Nasional dimanfaatkan berbagai pihak untuk menekankan komitmen memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

Pemerintah memahami bahwa anak Indonesia merupakan aset yang berpotensi dalam menentukan kemajuan bangsa.  Potensi yang dimiliki oleh anak akan berkembang dan terarah secara baik sesuai dengan pengaruh lingkungan di sekitarnya. Kepedulian pemerintah terhadap hal tersebut kemudian diimplementasikan dengan penetapan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli. Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 yang ditetapkan pada tanggal 19 Juli 1984 pada era pemerintahan Presiden Soeharto.

Kekerasan sebagai Permasalahan yang Dihadapi Anak-anak Indonesia
Seiring berjalannya waktu, ditemukan permasalahan yang menarik perhatian seluruh kalangan mengenai kondisi anak-anak di Indonesia. Sebagian besar memberikan penekanan terhadap rendahnya kesejahteraan dan perlindungan anak, terutama karena tren meningkatnya angka tindak kekerasan pada anak. Situasi ini merupakan hasil akumulasi dari nilai sosial kultural dari suatu masyarakat. Berbagai pihak mendesak pemerintah untuk membuat kesepakatan bersama dari seluruh pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di negeri ini untuk lebih memperhatikan isu kekerasan terhadap anak.

UNICEF mengeluarkan data yang cukup mengejutkan pada tahun 2015 tentang sifat dan jenis kekerasan terhadap anak di Indonesia. Ada 40 persen anak berusia 13-15 tahun melaporkan penyerangan secara fisik sedikitnya satu kali dalam setahun. Kemudian, ada 26 persen anak melaporkan pernah mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh di rumah. Yang paling mengkhawatirkan, 50 persen anak melaporkan tindakan perundungan (bully) yang terjadi di sekolah.  Menurut data tersebut, diketahui pula bahwa data mengenai tindak kekerasan terhadap anak ini sudah terjadi secara luas di Indonesia.

Menindaklanjuti Kekerasan pada Anak
Pada peringatan Hari Anak Nasional 2018 di Surabaya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise menekankan kembali pentingnya komitmen pada semua pihak untuk bekerja sama dan mengambil peran dalam memutus mata rantai kekerasan terhadap anak. Menurut Menteri Yohana, cara menghindari perilaku kekerasan kepada anak dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu rumah. Lingkungan terdekat berperan sebagai pelopor dan pelapor dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Keluarga harus bertanggung jawab untuk saling mengawasi apabila terjadi kekerasan dalam mendidik anak. Lingkungan terdekat harus berani mengambil tindakan tegas apabila terjadi kasus kekerasan terhadap anak. 

Kekerasan yang diterima anak tidak boleh lagi menjadi pemakluman, walaupun ada pemahaman bahwa mendidik anak dengan kekerasan merupakan jalan terbaik untuk menanamkan nilai moral dan sikap. Disadari atau tidak, masyarakat kita sudah mulai cerdas dalam menyampaikan cara mendidik anak yang tepat. Mereka juga berani untuk bertindak apabila melihat kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungannya. Berbagai laporan mengenai tindak kekerasan anak sudah mulai diterima oleh berbagai lembaga terkait. Hal ini masih harus ditingkatkan untuk terus menanamkan komitmen guna menyelamatkan anak yang menjadi korban tindak kekerasan.