02 Mei 2018 11:36:38

Pendidikan Karakter sebagai Revitalisasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara memaknai pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani siswa.

Hari Pendidikan Nasional selalu diperingati setiap 2 Mei. Peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak dapat kita lepaskan dari tokoh pendidikan nasional, yakni Ki Hajar Dewantara. Tahun ini Hari Pendidikan Nasional mengambil tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Sejalan dengan tema tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi menyampaikan agar Hari Pendidikan Nasional tahun ini dijadikan momentum untuk merenungkan hubungan erat antara pendidikan dan kebudayaan sebagaimana yang tercermin dalam ajaran, pemikiran, dan praktik pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara.

Konsep Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara

Dalam berbagai sumber tulisan mengenai konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, pendidikan mestinya dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan mengenai konsep mendidik itu sendiri. Mendidik dalam arti sesungguhnya merupakan proses memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia artinya pengangkatan manusia ke taraf insani. Dalam proses mendidik, ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia untuk dimiliki, untuk kemudian dilanjutkan dan disempurnakan.

Dalam konsep pendidikan ada dua hal yang harus dibedakan, yakni “pengajaran” dan “pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran memiliki sifat memerdekan manusia dari aspek lahiriah, yakni kemiskinan dan kebodohan. Sementara itu, pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek kehidupan batin, hal tersebut meliputi otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik. Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri”. Penguasaan diri merupakan sebuah langkah yang harus dituju demi tercapainya pendidikan yang memanusiakan manusia. Saat siswa mampu menguasai dirinya, maka mereka sekaligus akan mampu menentukan sikapnya. Dengan demikian, akan tumbuh karakter mandiri dan juga dewasa.

Pendidikan Karakter dan Revitalisasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara memaknai pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani siswa. Hal tersebut bertujuan agar kelak mereka dapat memajukan kesempurnaan hidup. Bisa dikatakan bahwa konsepsi pendidikan karakter merupakan hasil pemikiran luhur Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara telah menyampaikan bahwa terhadap segala ajaran hidup serta cita-cita hidup yang kita anut, diperlukan adanya pengertian, kesadaran, dan kesungguhan dalam pelaksanaannya. Lebih lanjut lagi, ilmu tanpa perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu pincang. Karena itulah, agar tidak kosong, ilmu harus disertai dengan adanya perbuatan, agar tidak pincang perbuatan, maka harus disertai dengan ilmu.

Berkenaan dengan pendidikan karakter, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yakni melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, sekaligus tindakan. Tanpa ketiga aspek tersebut, pendidikan karakter tidak akan efektif. Sejalan dengan tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini, yakni “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”, maka untuk mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter, budaya, dan moral, tentulah sosok Ki Hajar Dewantara akan menjadi rujukan utama. Beliau telah merintis tentang konsep tri pusat pendidikan yang menyebutkan bahwa wilayah pendidikan bertujuan untuk membangun konstruksi fisik, mental, dan spiritual yang handal dan tangguh, yang dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Maka sejalan dengan hal tersebut, pendidikan yang cenderung kognitif-intelektualistik perlu direvitalisasi sebagai wahana pengembangan pendidikan karakter bangsa.