02 Mei 2018 11:31:14

Kurikulum Pendidikan Indonesia dari Masa ke Masa

Kurikulum pendidikan di Indonesia pernah mengalami beberapa kali perubahan.

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, refleksi mengenai pendidikan di Indonesia banyak disoroti. Salah satu fokusnya adalah kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan harus fleksibel mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini, kurikulum pendidikan di Indonesia pernah mengalami beberapa kali perubahan. Berikut ini sejarah perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia terhitung sejak masa awal kemerdekaan.

1. Rentjana Pelajaran 1947

Rentjana Pelajaran (Leer Plan) 1947 ini baru dilaksanakan pada tahun 1950. Arah pendidikannya bersifat politis, yakni perubahan orientasi dari pendidikan Belanda ke kepentingan nasional dengan mempertahankan Pancasila sebagai asas pendidikan. Sementara itu, fokus pendidikan adalah pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain. Adapun materi pelajaran dikaitkan dengan peristiwa sehari-hari, kesenian, dan pendidikan jasmani.

2. Rentjana Pelajaran Terurai 1952

Rentjana Pelajaran Terurai 1952 telah merinci setiap mata pelajaran. Arah pendidikannya sudah menggambarkan suatu sistem pendidikan nasional. Ciri khasnya adalah menghubungkan setiap pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, silabus mata pelajaran menunjukkan bahwa seorang guru mengampu satu mata pelajaran. Lima fokus dalam kurikulum tersebut, yaitu pendidikan pikiran dikurangi, materi dikaitan dengan kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani, dan kewarganegaraan masyarakat.

3. Rentjana Pendidikan 1964

Ciri khas Rentjana Pendidikan 1964, yakni pemerintah berkeinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik sebagai pembekalan pada jenjang SD. Dengan demikian, pembelajaran difokuskan pada program Pancawardhana (pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keterampilan, dan jasmani). Lebih lanjut, kurikulum tersebut memuat lima hal pokok, yakni manusia Indonesia berjiwa Pancasila, Man Power, kepribadian kebudayaan nasional yang luhur, ilmu dan teknologi yang tinggi, serta pergerakan rakyat dan revolusi.

4.  Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 bersifat politis dengan tujuan membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani dengan cara mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Lebih lanjut, muatan materi pelajaran pada Kurikulum 1968 lebih bersifat teoretis karena tidak dikaitkan dengan permasalahan faktual dengan jumlah jam pelajaran mencapai 37 jam per minggu.

5. Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan pendidikan agar lebih efektif dan efisien melalui pengaruh konsep di bidang manajemen MBO (management by objective) sehingga pendekatan, materi, dan tujuan pembelajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) berupa rencana pelajaran tiap satuan bahasan. Lebih dari itu, Kurikulum 1975 telah menggunakan sistem penilaian setiap akhir semester dengan bidang penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa Indonesia.

6. Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 menerapkan pendekatan proses keahlian guna memenuhi kebutuhan lapangan kerja. Meskipun demikian, faktor tujuan tetap diperhatikan. Kurikulum tersebut menempatkan siswa sebagai subjek belajar dari keseluruhan kegiatan pembelajaran, mulai dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Lebih lanjut, kegiatan pembelajaran tersebut dinamakan model Cara Belajar Siswa Aktif  atau CBSA.

7. Kurikulum 1994

Kurikulum 1994 merupakan hasil perpaduan Kurikulum 1975 dan 1984. Meskipun demikian, perpaduan antara tujuan dan proses tersebut belum sempurna sehingga menuai banyak kritikan yang disebabkan oleh beratnya beban belajar siswa yang mencapai 42 jam per minggu, mulai dari muatan nasional hingga muatan lokal. Sistem yang diterapkan pada Kurikulum 1994 adalah sistem caturwulan.

8. Kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

KBK diberlakukan dengan memuat tiga unsur utama, yaitu pemilihan kompetensi sesuai, spesifikasi indikator evaluasi, serta pengembangan pembelajaran. Lebih lanjut, fokus KBK adalah pencapaian kompetensi siswa, orientasi pada hasil belajar, serta keberagaman. Pada KBK, kegiatan belajar menggunakan metode dan sumber belajar dapat bervariasi asal memenuhi unsur edukatif. Pada jenjang SD, jam pelajaran mencapai 31 jam per minggu.

9. Kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

KTSP menerapkan desentralisasi sistem pendidikan. Dengan demikian, pada KTSP pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Lalu, guru dituntut mampu mengembangkan silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerah. Dengan demikian, fokus KTSP adalah potensi, kebutuhan, dan lingkungan siswa. Lebih dari itu, KTSP harus relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

10.  Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian yang meliputi pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan perilaku. Dalam materi pembelajaran Kurikulum 2013, terdapat materi yang disusutkan (Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb.) dan materi yang ditambahkan (Matematika). Pendekatan yang diterapkan dalam kurikulum tersebut adalah pendekatan saintifik. Jumlah jam pelajaran yang direncanakan mencapai 40 jam per minggu.