14 Maret 2018 09:51:06

7 Cara Mengajarkan Anak Berkompetisi

Kompetisi dapat memberi pengaruh positif, jika orang tua mampu mengelola jiwa kompetitif anak serta menyalurkannya dengan baik.

Menjadi sebuah kebanggaan jika orang tua memiliki seorang anak yang memiliki prestasi gemilang sejak dini. Karenanya, mengikutsertakan anak dalam banyak kompetensi seperti lomba melukis, menyanyi, bahkan modelling merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Namun demikian, kesuksesan orang tua mendidik anak bukan hanya tercermin dari kemenangan anak saat berkompetisi. Orang tua juga harus mempertimbangkan untuk tidak memaksa anak mengikuti kompetisi yang tidak sukainya. Hal itu dikarenakan kompetisi yang diikuti anak akan berpengaruh pada karakter anak saat dewasa kelak. Kompetisi dapat memberi pengaruh positif, jika orang tua mampu mengelola jiwa kompetitif anak serta menyalurkannya dengan baik. Maka dari itu, orang tua perlu mengajarkan anak untuk berkompetisi sekaligus mendampinginya melalui beberapa cara berikut.

1.  Membiarkan Anak Memilih

Kompetisi yang diadakan untuk anak-anak biasanya mengandung unsur permainan yang menyenangkan bagi anak. Dalam hal ini, orang tua dapat mendampingi anak dalam memilih kompetisi yang sesuai dengan usia dan minatnya. Kompetisi yang diikuti oleh anak dijadikan sebagai latihan untuk menyiapkan anak agar dapat berkompetisi saat dewasa kelak.

2.  Menikmati Proses Berkompetisi

Kekalahan dalam kompetisi akan sangat menyakitkan jika orientasi anak tertuju pada kemenangan. Oleh karena itu, orang tua harus mengajarkan bahwa kompetisi merupakan sebuah proses yang sehat dan hasil adalah konsekuensi dari proses tersebut. Mengajak anak untuk menikmati setiap proses dalam kompetisi akan membuat anak mampu menerima apapun hasil yang didapatkannya.

3.  Memberi Apresiasi dalam Kekalahan

Sama seperti orang dewasa, kekalahan akan membuat anak sedih, tidak percaya diri, atau malu. Oleh karena itu sebagai orang tua, tetaplah memberikan apresiasi dengan mengatakan sesuatu yang akan membuat anak kembali bersemangat dan percaya diri. Orang tua dapat memberi sentuhan atau pelukan yang dapat menenangkan anak dan membuatnya tidak merasa sendiri.

4.  Membantu Memahami Kekalahan

Saat anak mengalami kekalahan dalam berkompetisi, orang tua harus membantu anak untuk memahami kekalahannya. Jelaskan pada anak proses mana yang dirasa kurang maksimal sehingga anak kalah dalam kompetisi. Berilah motivasi untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Di sisi lain, orang tua tidak boleh menyalahkan anak atau orang lain atas kekalahan tersebut.

5.  Mendampingi dalam Kemenangan

Bukan hanya dalam kekalahan, saat anak meraih kemenangan peran orang tua pun sangat penting. Jangan sampai anak merasa angkuh dan sombong dengan prestasi yang dimilikinya. Meskipun sudah berprestasi, jangan sampai membuat anak jadi enggan berlatih. Dampingi anak agar dia tidak merasa puas diri dan terus bersemangat untuk meningkatkan kemampuannya. Berikan pujian atau hadiah sebagai apresiasi yang mampu membangkitkan semangatnya.

6.  Menghargai Pesaing

Pesaing hanyalah lawan main saat dalam kompetisi saja, diluar itu mereka adalah teman yang harus dihargai. Jangan segan untuk menghampiri pesaing untuk mengucapkan selamat saat pesaing menang dan saat pesaing kalah cobalah untuk memberikan motivasi. Dengan demikian, anak akan selalu berhati besar dalam menerima kekalahan atau kemenangan.

7.  Bukan Kompetisi Orang Tua

Saat berkompetisi, kadang kala anak menganggapnya sebagai sebuah permainan. Namun, yang memiliki ambisi besar untuk menang justru orang tuanya. Karena ambisi orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pemenang, orang tua memberikan tekanan berlebihan kepada anak. Tekanan tersebut akan membuat anak merasa tidak nyaman. Jika berorientasi pada kemenangan, anak justru tidak bisa merasakan belajar dari kompetisi tersebut.