08 Maret 2018 10:53:55

Mengajak Anak Berdemokrasi Sejak Dini

Mengenalkan demokrasi tidak selesai hanya dalam waktu semalam, namun perlu terus-menerus diajarkan secara bertahap.

Demokrasi bukanlah persoalan orang dewasa yang tidak perlu diketahui anak sejak dini. Sistem yang dianut oleh negara kita ini juga perlu diperkenalkan kepada anak dengan cara diadopsi dalam kehidupan keseharian dalam keluarga. Meskipun secara definitif, anak belum tahu apa itu demokrasi, namun jika diaplikasikan dalam kehidupan keseharian, banyak hal-hal kecil yang dilakukan anak yang bernilai demokrasi. Pentingnya mengajarkan sikap demokrasi sejak dini bukan hanya bermanfaat bagi anak, tetapi orang tua pun mendapat manfaat serta menjadi kunci keberhasilan pendidikan demokrasi di rumah.

Budaya yang mengedepankan bahwa apapun yang dikatakan oleh orang tua selalu benar harus dikikis sedikit demi sedikit. Hal itu dikarenakan demokrasi menuntut semua anggota keluarga termasuk anak berhak mengemukakan pendapatnya. Keberanian mengemukakan pendapat harus terus distimulasi karena menjadi awal dari pembelajaran demokrasi. Mengenalkan demokrasi tidak selesai hanya dalam waktu semalam, namun perlu terus-menerus diajarkan secara bertahap. Berikut beberapa cara mengajarkan demokrasi pada anak.

1.      Membiasakan Berdialog dan Terbuka

Hal utama sebelum memulai kebiasaan berdemokrasi adalah menyiapkan waktu khusus berkumpul bersama keluarga untuk berdialog dan mengemukakan pendapatnya secara terbuka. Hal tersebut dapat dilakukan saat semua anggota keluarga berkumpul. Ciptakan iklim dialogis dan terbuka sehingga anak mampu mendengarkan dan menerima pendapat orang lain. Dengan begitu, anak dapat berlatih untuk berbicara dan berpendapat. Jadilah orang tua yang selalu ada dan mendengarkan setiap pendapat anaknya. Banyak berdiskusi dengan anak akan membuka pikiran kita untuk mengetahui pendapat dan sudut pandang anak. Hal tersebut bermanfaat untuk mengembangkan cara berpikir dan wawasannya hingga dewasa kelak. 

2.      Memberi Kesempatan Anak Mengutarakan Alasan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali yang anak-anak inginkan. Namun, orang tua sebaiknya tidak tergesa-gesa mengatakan tidak kepada anak. Menolak permintaan anak langsung tanpa mendengarkan alasannya justru mengajarkan otoriter kepada anak. Sebaliknya, kita dapat memberi kesempatan anak mengemukakan alasan mengapa anak menginginkan hal tersebut. Dari sana orang tua telah mengenalkan demokrasi dengan mengajak anak mengemukakan alasan dari keinginannya. Hal tersebut juga sekaligus dapat mendidik anak untuk bersikap logis terhadap segala sesuatu.

3.      Menerima Protes Anak

Hal penting yang harus dipersiapkan orang tua sebelum memulai kebiasaan berdemokrasi adalah menyiapkan diri untuk menerima kritik, masukan, atau protes dari seorang anak. Dengan begitu, cara pandang bahwa sikap protes anak merupakan wujud ketidaksopanan dan kurang hormat pada orang tua dianggap tidak tepat saat mengajarkan anak demokrasi. Orang tua yang masih menganut prinsip antikritik justru akan membentuk karakter anak tidak berani bertanya dan berpendapat. Maka dari itu, cobalah untuk menerima dan mendengarkan protes anak. Bisa jadi hal tersebut adalah sebuah ekspresi anak agar diperhatikan dan dihargai.

4.      Berikan Alasan Menerima atau Menolak Permintaan Anak

Jika anak sudah berani mengemukakan pendapatnya, kita dapat mengajarkan arti dari menerima dan menolak dalam sebuah diskusi. Berilah pengertian bahwa dalam sebuah dialog pasti ada pendapat yang bertentangan dengan diri kita. Dengan memberikan penjelasan atau alasan, anak akan belajar menerima pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya. Jangan lupa berikan apresiasi kepada anak, jika sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga. Dengan demikian, anak akan belajar untuk tidak serta-merta menerima atau menolak suatu pendapat tanpa alasan atau penjelasan yang logis.