22 Februari 2018 09:02:20

Peran Taksonomi Bloom dalam Pembelajaran di Era Digital

Taksonomi Bloom dalam pembelajaran berbasis digital sedianya dibuat bagi para guru dalam mengembangkan tujuan pembelajarannya.

Tahun 1949, Benjamin S. Bloom mengajukan ide mengenai pembagian atau taksonomi kognitif yang berguna untuk mempermudah proses penyusunan bank soal sehingga memiliki tujuan yang sama. Taksonomi tersebut diplublikasikan oleh Bloom bersama timnya pada tahun 1956. 45 tahun kemudian, salah satu anggota dari tim Bloom yaitu David R. Krathwohl mengusulkan revisi terhadap taksonomi tersebut. Krathwohl juga bekerja sama dengan tujuh ahli psiko-edukasi dan pendidikan. Revisi terhadap Taksonomi Bloom tersebut diajukan secara umum untuk lebih melihat ke depan serta merespon tuntutan perkembangan komunitas pendidikan, termasuk bagaimana siswa berkembang dan belajar, serta bagaimana guru menyiapkan bahan ajar. Hal tersebut secara keseluruhan mengalami perkembangan yang signifikan dibandingkan dengan masa ketika Bloom mempublikasikan taksonominya.

Revisi Taksonomi Bloom

Revisi Taksonomi Bloom disusun dengan memperhatikan perkembangan di dunia pendidikan. Dalam revisi Taksonomi Bloom ada dua perubahan yang paling mendasar, di antaranya sebagai berikut.

1. Revisi Taksonomi Bloom Terfokus pada Aplikasinya

Dalam revisinya, Taksonomi Bloom fokus pada tiga bidang utama, yakni penyusunan kurikulum, instruksi pengajaran, serta assesment. Revisi Taksonomi Bloom berkomitmen pada aplikasi ketiga bidang tersebut. Revisi Taksonomi Bloom ditujukan terutama bagi guru tingkat dasar, menengah, dan akademi. Hal ini berbeda dengan ide dasar penyusunan Taksonomi Bloom yang terdahulu, di mana Bloom bersama timnya menunjukan penyusunan taksonomi tersebut dalam rangka mempermudah penyusunan assesment bagi tingkat perguruan tinggi secara nasional.

2. Perubahan Terminologi

Dalam Taksonomi Bloom yang lama, penekanan lebih diberikan kepada keenam kategori kognisi. Revisi Taksonomi Bloom lebih menekankan subkategori sehingga lebih spesifik dan mempermudah penyusunan kurikulum, assesment, dan instruksi pengajaran. Dalam revisi Taksonomi Bloom mengubah enam kategori kognisi yang berupa kata benda dalam Taksonomi Bloom lama menjadi enam kategori utama proses kognitif yang berupa kata kerja operasional. Penekanan kata kerja ini mengajak pengguna dengan mudah untuk mengidentifikasi pada level kognisi manakah sebuah learning objective akan dicapai atau suatu aktivitas belajar akan dilakukan ataupun sebuah assesment akan dibuat.

(Baca juga: Revisi Taksonomi Bloom dan Penerapannya)

Penerapan Taksonomi Bloom dalam Pembelajaran di Era Digital

Taksonomi Bloom yang telah direvisi tersebut akhirnya diterapkan dalam pembelajaran berbasis digital. Hal tersebut tidak lain karena dunia digital telah digadang menjadi roh dalam pendidikan di era abad 21, maka tujuan pendidikan di ranah digital pun bisa ditaksonomikan. Pembelajaran di era digital menggunakan penerapan Taksonomi Bloom pada ranah kognitif bisa dikelompokkan menjadi beberapa kata kerja operasional sesuai dengan tingkatannya masing-masing, untuk selengkapnya bisa dilihat pada bagan berikut.



Berdasarkan bagan tersebut, dapat dilihat bagaimana setiap kemampuan diaplikasikan dalam pembelajaran berbasis digital. Sebagai contoh membuat media pembelajaran berupa video menggunakan telepon genggam, kemudian diunggah ke Youtube. Kemampuan tersebut sebenarnya sudah berada pada tingkatan tertinggi yaitu mencipta, tetapi perlu diketahui bahwa sebelum bisa mencipta dengan baik, ada banyak hal yang harus dipahami dan dianalisa sehingga proses penciptaan bisa menghasilkan produk yang ideal. Penerapan Taksonomi Bloom dalam pembelajaran berbasis digital sedianya dibuat bagi para guru dalam mengembangkan tujuan pembelajarannya. Jika ingin mengajarkan siswa tentang sebuah kemampuan berpikir, taksonomi ini akan sangat membantu.