08 Januari 2018 14:22:13

Mengubah Paradigma Mengajar: Membuat Siswa Semakin Sulit untuk Mendapatkan Nilai Buruk

https://pixabay.com/en/student-school-learn-education-411947/

Mengubah paradigma mengajar bukanlah hal yang mudah dilakukan. Poin dari pembahasan ini adalah bagaimana guru tidak terjebak dalam pemahaman membentuk kecerdasan siswa dengan mempersulit materi dan soal sehingga siswa kesulitan mendapat nilai terbaik. Sebaliknya, guru harus bekerja keras untuk memaksimalkan proses pembelajaran supaya siswa akan sulit mendapatkan nilai yang buruk.

Melakukan Evaluasi Mandiri Berdasar Nilai yang Diraih Siswa

Semakin tinggi tingkatan kelas siswa, semakin sulit materi yang dipelajari. Kita bisa melihat bahwa pada siswa kelas bawah akan dengan mudah mendapatkan nilai sempurna. Namun, dengan meningkatnya kesulitan dan beban materi di kelas atas, nilai sempurna pun semakin jarang didapatkan. Beberapa siswa bahkan tidak terlihat malu atau menyesal dengan nilai rata-rata yang mereka dapatkan. Pada penilaian berikutnya, guru tidak melihat indikasi adanya semangat siswa untuk memperbaikinya. Pada kenyataannya, paradigma berpikir siswa ini adalah pertanda menurunnya motivasi belajar siswa.

Pada kasus ini, guru tidak boleh terjebak pada nilai atau angka saja. Lebih dalam, guru harus mampu membaca pola pikir siswa. Dengan demikian, guru dapat mencari tahu apa yang membuat siswa kesulitan mendapat nilai terbaik dan mengapa nilai buruk sangat mudah didapatkan. Bisa jadi, siswa tidak benar-benar memahami maksud dan tujuan pembelajaran, atau ditemukan kelemahan dalam metode mengajar yang diiterapkan guru. Dengan kata lain, melakukan evaluasi mandiri bukan hanya pada kemampuan belajar siswa saja, tetapi juga pada metode mengajar yang diterapkan guru di kelas.

Guru yang Komunikatif Adalah Investasi Terbaik

Membentuk kepercayaan diri siswa tidak hanya dilakukan dengan metode sugesti, tetapi juga harus dilakukan secara terpadu pada kegiatan pembelajaran. Caranya, dengan membuat sistematika belajar yang jelas untuk siswa. Pada awal pembelajaran, guru dapat memberikan apersepsi dengan konteks yang paling dekat dengan siswa. Guru dapat memancing pemahaman siswa dengan membuka sesi tanya jawab, sehingga siswa dapat mulai membangun pemahaman, bahkan sebelum materi mulai disampaikan.

Dalam proses penyampaian materi, guru harus memperhatikan pengelolaan waktu agar materi dapat disajikan secara lengkap, jelas, dan tuntas. Oleh karena itu, guru harus membuat persiapan dan perencanaan yang efektif. Guru dapat memanfaatkan berbagai media belajar dari internet untuk membangun pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa serta memudahkan guru. Guru juga dapat mencari model lembar latihan, lembar kegiatan atau praktik, serta soal evaluasi yang bisa diunduh untuk membuat penilaian formatif. Penggunaan internet dapat menghemat waktu dan tenaga sehingga guru dapat memberi perhatian lebih terhadap perkembangan siswa serta memberi umpan balik dan semangat agar siswa memahami materi dengan lebih baik.

Yang tidak kalah penting untuk menjadi perhatian guru adalah masa penilaian sumatif. Hal ini dikarenakan tes sumatif biasanya memiliki bobot lebih besar daripada tes normatif. Di sinilah biasanya siswa akan merasa takut, lelah, bahkan jenuh dalam menjalani rangkaian evaluasi pembelajaran. Untuk persiapan penilaian sumatif, guru dapat memberi lembar latihan terpadu berupa rangkuman dan kisi-kisi soal yang bisa digunakan siswa untuk belajar bersama orang tua di rumah. Guru juga dapat menyertakan petunjuk untuk orang tua agar memberi umpan balik kepada siswa yang bukan hanya sekadar kunci jawaban. Lebih lanjut, guru juga dapat menyampaikan kepada siswa dan orang tua mengenai pokok materi yang belum dikuasai sehingga perlu diperdalam selama waktu persiapan serta bagian mana yang sudah cukup kuat dalam penguasaan. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut diharapkan anak akan semakin sulit mendapat nilai buruk, karena sudah menguasai materi serta memahami proses pembelajaran yang dihadapi.