22 Desember 2017 08:16:39

Mengenal Sejarah dan Makna Peringatan Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember

Tepat setiap tanggal 22 Desember kita memperingati Hari Ibu. Peringatan Hari Ibu telah dikukuhkan dalam Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Seiring dengan maksud dari pendidikan karakter, peringatan Hari Ibu dapat memperkokoh penanaman nilai karakter nasionalis dan integritas pada generasi penerus bangsa. Hal ini dapat dilakukan dengan mencontoh para pahlawan perempuan yang mampu mengangkat harkat martabatnya sekaligus berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mengenal Sejarah Hari Ibu

Hari Ibu pada mulanya ditetapkan untuk mengenang peristiwa Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali diadakan pada tanggal 22 sampai dengan 25 Desember tahun 1928 di Yogyakarta. Kongres ini diprakarsai oleh R.A. Soekonto dari Organisasi Wanita Utomo, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa, dan Sujatin dari Putri Indonesia. Para perempuan dari organisasi, suku, dan agama yang berbeda berkumpul dan bertukar gagasan. Mereka membahas tentang berbagai hak perempuan terutama hak dalam bidang pendidikan dan pernikahan. 

Salah satu keputusan yang diperoleh adalah dibentuknya organisasi Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Melalui organisasi ini timbulah kesatuan semangat juang para perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka bersama para laki-Iaki. Selain itu, mereka juga akan berjuang untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju. Pada tahun 1929, nama PPPI berubah menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII).

Selanjutnya tahun 1935, diadakan Kongres Perempuan Indonesia yang kedua di Jakarta. Kongres tersebut membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia (BKPI) dan menetapkan fungsi perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa. Ibu Bangsa berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru agar menyadari serta memiliki rasa kebangsaan. Pada tahun 1938, Kongres Perempuan Indonesia ketiga digelar di Bandung. Hasil kongres ini menyalakan bahwa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu. Tahun 1946, BKPI berubah menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang sampai sekarang berkiprah sesuai aspirasi dan perkembangan zaman.

Makna dari Peringatan Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu tidak hanya dimaknai untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh. Perempuan berperan sebagai ibu, istri, dan warga negara yang dulu ikut pejuang dalam menegakan kemerdekaan. Dengan demikian, peringatan Hari Ibu juga memiliki makna untuk mengingatkan rakyat Indonesia akan hari kebangkitan dan persatuan perjuangan kaum perumpuan. Semangat juang para perempuan perlu diwarisi untuk melanjutkan perjuangan dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semangat juang tersebut tercermin dalam lambang Hari Ibu yang berupa setangkai bunga melati beserta kuntumnya. Lambang ini menggambarkan beberapa hal yang berkaitan dengan seorang ibu. Pertama, kasih sayang kodrati antara ibu dan anak. Kedua, kekuatan dan kesucian antara ibu serta pengorbanan anak. Ketiga, kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan serta keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara.

Pada lambang Hari Ibu terdapat semboyan ‘Merdeka Melaksanakan Dharma’. Semboyan tersebut memiliki arti bahwa kedudukan, hak, kewajiban, dan kesempatan antara perempuan dan laki-Iaki merupakan kemitrasejajaran. Hal ini perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi keutuhan, kemajuan, serta kedamaian bangsa Indonesia.