12 Desember 2017 10:10:56

Prinsip Pembelajaran Hak Asasi Manusia di Sekolah Dasar

Pengembangan dan pembinaan HAM dapat ditempuh melalui pendidikan dan pengajaran.

Hari Hak Asasi Manusia ditetapkan pada tanggal 10 Desember untuk memperingati pengadopsian Universal Declaration of Human Right tahun 1948 yang diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB. Berdasarkan deklarasi tersebut disepakati bahwa salah satu cara pengembangan dan pembinaan hak asasi manusia di seluruh dunia dapat ditempuh melalui jalur pendidikan. Melalui cara tersebut, kemampuan untuk memahami dan menghayati hak asasi manusia dapat ditanamkan sejak dini.

Pembelajaran Hak Asasi Manusia bukan hanya sekedar penyampaian materi yang berkaitan, tetapi prosesnya pun harus mencerminkan penghayatan dari nilai-nilai kemanusiaan. Di Indonesia, pendidikan Hak Asasi Manusia dapat diterapkan melalui pembelajaran di sekolah (khususnya di sekolah dasar) dan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional serta tujuan negara. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, diperlukan prinsip-prinsip pembelajaran Hak Asasi Manusia yang sesuai siswa sekolah dasar. Secara garis besar, pembelajaran Hak Asasi Manusia di sekolah dasar dilaksanakan berdasarkan lima prinsip berikut.

1.        Belajar secara Konkret

Dalam kurikulum 2013 khususnya, siswa sekolah dasar ditutntut untuk menerapkan metode belajar secara konkret sehingga pembelajaran Hak Asasi Manusia juga sebaiknya dilakukan dengan cara yang sama. Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan fasilitas berupa media dan sumber belajar yang bersifat konkret agar materi yang disampaikan dapat dipahami siswa dengan mudah. Pemanfaatan media dan sumber belajar dalam pembelajaran Hak Asasi Manusia perlu disesuaikan dengan beberapa hal berikut. Pertama, perkembangan dan kebutuhan  siswa. Kedua, kompetensi dasar yang akan dicapai. Ketiga, pesan atau materi yang akan disampaikan. Keempat, metode atau strategi pembelajaran yang dipilih. Kelima, kemampuan guru serta potensi sekolah.

2.        Bermain sambil Belajar

Kegiatan bermain sambil belajar ditujukan agar siswa dapat berinteraksi sekaligus belajar menghargai hak orang lain, namun dengan suasana yang menyenangkan. Pada dasarnya, ada tiga pola permainan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Hak Asasi Manusia. Pertama, bermain bebas yaitu dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih berbagai alat permainan dan memainkannya. Kedua, bermain dengan bimbingan yaitu dengan cara guru memilihkan alat-alat permainan, kemudian siswa diarahkan untuk menemukan  suatu pengertian atau konsep. Ketiga, bermain dengan diarahkan yaitu bermain sesuai arahan guru untuk cara menyelesaikan tugas tertentu.

3.        Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif (active learning) dinilai bisa menstimulasi siswa dalam menyerap materi dengan lebih cepat. Hal ini pula yang dibutuhkan dalam pembelajaran Hak Asasi Manusia di sekolah dasar. Guru diharapkan dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa agar aktif mencari dan memaknai nilai-nilai Hak Asasi Manusia, baik melalui pembejaran individual maupun bekerja sama dalam kelompok. Agar tercipta pembelajaran yang aktif, guru dapat memilih strategi pembelajaran berbasis pemecahan masalah. Melalui strategi tersebut, siswa akan tertantang dan aktif mengikuti seluruh proses pembelajaran.

4.        Siswa sebagai Pusat Pembelajaran

Sejalan dengan penerapan Kurikulum 2013, pembelajaran Hak Asasi Manusia di sekolah dasar pun harus menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Artinya, siswa menjadi subjek atau pelaku yang aktif dalam kegiatan, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mempelajari materi Hak Asasi Manusia dengan mudah. Lebih lanjut, pembelajaran Hak Asasi Manusia harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan beberapa hal yang berkaitan dengan siswa seperti berikut. Pertama, pertumbuhan dan kebutuhan siswa. Kedua, kemampuan dan potensi siswa. Ketiga, suasana psikologis dan moral siswa.

5.        Belajar melalui Eksperimen

Proses pembelajaran Hak Asasi Manusia bukan hanya sekadar agar siswa melihat atau mendengarkan materi, melainkan memberi kesempatan kepada siswa untuk bereksperimen (mencoba). Melalui eksperimen, pembelajaran Hak Asasi Manusia di sekolah dasar dapat mengembangkan keterampilan  sosial, kognitif, emosional, serta spiritual siswa. Siswa dapat mengalami sendiri semua kegiatan yang memuat nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu, guru harus memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk bereksperimen mengalami berbagai kegiatan yang mencerminkan nilai-nilai Hak Asasi Manusia.