27 November 2017 15:28:04

Gerakan Literasi Sekolah Sebagai Upaya Penanaman Budi Pekerti

https://pixabay.com/id/belajar-pengembangan-mencari-164331/

Keterampilan literasi yang meliputi kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif adalah salah satu tuntutan pendidikan pada abad ke-21. Pentingnya keterampilan literasi juga tercantum dalam buku saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemendikbud. Dalam buku saku tersebut, terdapat hasil penilaian dari The Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengukur keterampilan membaca anak-anak sekolah berusia 15 tahun. Hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2009, Indonesia berada di peringkat ke-57 dari 65 negara. Sementara itu, pada tahun 2012 Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara. Hal ini menunjukkan menurunnya tingkat literasi di Indonesia. Oleh karena itu, Kemendikbud merasa perlu melakukan upaya peningkatan kegiatan membaca yang diwujudkan dengan pembiasaan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi sebuah upaya Kemendikbud yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya memiliki kemampuan literasi sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Salah satu dasar pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yakni Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Budi Pekerti. Berdasarkan Permendikbud tersebut, Pembudayaan Budi Pekerti (PBP) dilaksanakan melalui kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah. Salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan yaitu dengan penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca. Di sekolah dasar, kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan membaca buku-buku cerita. Selain menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), melalui internalisasi sikap moral dan spiritual dalam cerita diharapkan anak dapat belajar menumbuhkan budi pekerti.

Pencapaian tujuan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) erat kaitannya dengan komponen literasi yang perlu diperhatikan oleh tenaga pendidik. Menurut Ferguson dalam ebooknya yang berjudul “Information Literacy: A Primer for Teachers, Librarians, and other Informed People”, komponen-kompenen literasi informasi tersebut sebagai berikut

1. Literasi Dasar (Basic Literacy)

Literasi dasar  meliputi keterampilan membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, berhitung, mengamati, dan menggambar. Tenaga pendidik harus mengajarkan dan meningkatkan keterampilan ini dalam semua mata pelajaran secara bertahap di setiap tingkatan kelas. Saat ini, jika siswa kurang menguasai keterampilan-keterampilan tersebut maka belum benar-benar dianggap terpelajar.

2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy)

Literasi perpustakaan meliputi keterampilan mengidentifikasi, mencari, mengevaluasi, dan menggunakan sistem informasi. Di perpustakaan, siswa dapat belajar teori maupun praktik untuk memahami perbedaan antara fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodik, memahami sistem klasifikasi perpustakaan, serta menggunakan indeks dan katalog perpustakaan. Keterampilan tersebut nantinya akan diperlukan dalam menemukan, memproses, dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah secara metakognitif.

3. Literasi Media (Media Literacy)

Literasi media meliputi kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media (media cetak, media elektronik, dan media digital) beserta tujuan penggunaannya. Pada jenis literasi ini, siswa dituntut untuk memiliki kemampuan membedakan antara fakta dan opini, serta antara informasi, hiburan, dan persuasi. Untuk memahami informasi yang tepat, siswa juga perlu memahami bahwa semua informasi memiliki sumber yang perlu diketahui. Keterampilan tersebut akan membantu siswa dalam membentuk pola pikir tingkat tinggi (HOTS) dan memberntuk pribadi dengan pemikiran kritis.

4. Literasi Teknologi (Technology Literacy)

Literasi teknologi meliputi keterampilan dalam menggunakan teknologi beserta etika dan etiket dalam memanfaatkannya. Tujuannya yakni agar siswa mampu mengelola dan memahami teknologi informasi dengan baik. Kemampuan ini dapat diajarkan dengan berbagai jenis perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Dalam hal ini, siswa perlu diberi kesempatan untuk menggunakan teknologi agar dapat menghasilkan informasi sendiri dalam bentuk cetakan (print), digital (on screen), serta daring (online).

5. Literasi Visual (Visual Literacy)

Literasi visual merupakan penghubung antara literasi media dan literasi teknologi. Literasi ini mengembangkan keterampilan dan kemampuan belajar dengan memanfaatkan materi visual serta audio-visual secara kritis dan bermartabat. Siswa perlu berpikir kritis tentang data visual yang diperoleh baik dalam media cetak maupun elektronik. Siswa harus memahami bahwa dalam penyajiannya media terkait gambar atau suara merupakan produk yang dibuat menggunakan teknologi digital dengan berbagai manipulasi untuk mendapatkan reaksi tertentu. Menguasai keterampilan untuk membuat materi visual sesuai etika dan kebutuhan yang positif dapat membantu siswa menumbuhkan pemahaman mengenai literasi visual yang baik dan beretika.