17 Oktober 2017 08:53:03

Mengenal Dispraksia pada Anak

Sumber: https://pixabay.com/en/kid-children-baby-kiddie-summer-1365105/

Dispraksia merupakan kelainan/gangguan pada otak yang menyebabkan penderitanya tidak bisa menentukan koordinat arah dan gerakan tubuh dengan baik. Anak-anak yang menderita dispraksia memiliki masalah dalam ide, perencanaan, serta eksekusi gerakan. Anak yang menderita dispraksia seringkali kesulitan merencanakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukan sesuatu. Mereka juga kesulitan melakukan berbagai gerakan koordinasi motorik kasar dan halus. Dispraksia akan mempengaruhi tiga area perkembangan anak, yaitu oral, verbal, dan gerakan. Dispraksia memang tidak mempengaruhi kepintaran seorang anak, namun sangat mempengaruhi prestasi akademis, perilaku, dan sosial-emosional anak. Oleh sebab itu, anak dengan dispraksia dapat dikategorikan anak dengan kesulitan belajar spesifik/khusus.

Gejala Dispraksia pada Anak

Menurut penelitian, dispraksia adalah kelainan genetis yang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya mirip dengan disleksia. Adapun gejala dispraksia pada anak adalah sebagai berikut.

  1. Anak jarang melakukan permainan yang imajinatif.
  2. Anak kesulitan melakukan kegiatan fisik jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusianya, seperti naik tangga, berlari, dan melompat.
  3. Anak memiliki kesulitan dengan genggaman menjepit dan memegang alat tulis.
  4. Mengalami kesulitan berbahasa yang terus-menerus, anak biasanya sulit berkata-kata, mengeja, atau mengekspresikan dirinya.
  5. Anak sensitif terhadap sentuhan dari orang lain.
  6. Anak kesulitan menyalin tulisan atau mengingat intruksi.
  7. Anak kesulitan menangkap berbagai macam konsep, seperti “di bawah”, “di atas”, “di luar”, atau “di dalam”.
  8. Anak memiliki kemampuan membaca dan menulis yang buruk.
  9. Anak kesulitan memakai baju dan sepatu sendiri.
  10. Anak kesulitan belajar mengendarai sepeda karena memiliki sistem keseimbangan yang buruk.
  11. Sebagian anak dispraksia mengalami articulatory dyspraxia yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam berbicara dan mengeja.

Menangani Anak dengan Dispraksia

Meskipun anak dengan dispraksia dapat dikategorikan sebagai anak dengan kesulitan belajar spesifik/khusus, namun kurang efektif jika memasukkan anak dispraksia ke dalam kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Yang dibutuhkan oleh anak-anak dispraksia adalah terapi satu lawan satu, yaitu suatu terapi di mana satu anak dispraksia ditangani oleh satu ahli fisioterapi. Anak-anak dispraksia membutuhkan penanganan dan dukungan profesional secara teratur. Dukungan tersebut juga termasuk pendidikan yang dijalani oleh anak. Yang terpenting, orang tua harus selalu memberikan motivasi untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.

Menurut penelitian, anak dengan dispraksia bisa sembuh, tergantung pada tingkat keparahan dispraksia itu sendiri. Dengan penanganan yang tepat, anak dengan dispraksia bisa melakukan aktivitas seperti anak-anak normal lainnya. Meskipun ada kemungkinan untuk kambuh beberapa kali, namun tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak dispraksia sebenarnya juga bisa sembuh sendiri, namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis. Orang tua harus senantiasa memberikan dukungan dalam tahap penyembuhan anak, sebab anak dispraksia biasanya mudah mengalami depresi serta mengalami kesukaran emosional dan perilaku ketika orang-orang di sekitarnya tidak memahami keadaan yang dialami oleh anak.