24 Maret 2017 14:52:41

Percayalah Bahwa Semua Anak Terlahir Cerdas

Percayalah Bahwa Semua Anak Terlahir Cerdas

Seorang anak terlahir ke dunia dengan membawa kecerdasan bawaan yang menjadi warna tersendiri bagi kehidupannya. Tidak ada satupun anak yang terlahir bodoh atau nakal, hanya saja lingkungan yang membentuk label tersebut sehingga melekat pada diri anak. Jika kita merujuk pada teori Multiple Intelligence, maka seorang anak terlahir dengan membawa beragam tipe kecerdasan, namun kecerdasan itu tidak semuanya muncul bersamaan secara dominan. Tugas kita sebagai orang tua adalah memaksimalkan tiap potensi kecerdasan agat bisa berkembang dengan baik.

Menurut Gardner, kesembilan jenis inteligensi itu terdapat dalam diri setiap orang, hanya kadarnya tidak selalu sama. Untuk orang tertentu suatu inteligensi lebih menonjol dari pada inteligensi lain. Inteligensi bukannya kemampuan yang tetap tak berubah sepanjang hayat. Inteligensi masih dapat dikembangkan dan ditingkatkan secara memadai sehingga dapat berfungsi bagi pemiliknya (Suprano, 2004). Jika dilakukan analisisi, maka dari itu akan muncul beberapa kecerdasan yang dominan. Hal ini dapat sangat bermanfaat, dimana satu kecerdasan dan kecerdasan lainnya dapat saling mendukung untuk mencapai prestasi seorang anak.

Beragam cara dapat dilakukan untuk mengidentifikasi tipe kecerdasan yang paling dominan pada anak. Dalam Armstrong (2002), Gardner telah menegaskan untuk jangan menggunakan tes tradisional dalam mengidentifikasi jenis-jenis kecerdasan pada anak-anak. Jenis tes formal yang mewajibkan anak-anak untuk menjawab pertanyaan secara lisan, tes isian, atau tugas menulis lain, cenderung hanya menguntungkan anak-anak yang berkemampuan linguistik dan logis-matematis yang tinggi dan merugikan anak-anak lain yang lemah dalam kedua bidang tersebut tapi kuat dalam bidang lain. Identifikasi dapat dilakukan dengan cara pengamatan keseharian anak-anak, mulai dari kebiasaan, minat dan prestasi yang paling menonjol dalam bidang tertentu.

Identifikasi tipe kecerdasan erat kaitannya dengan metode penentuan gaya belajar pada anak. Jika orang tua dapat memahaminya dengan baik, maka tidak akan ada lagi kesalahan paradigma mengajar dimana orang tua menerapkan satu metode belajar untuk anak dengan jenis kecerdasan yang berbeda. Kita beri contoh anak dengan kecerdasan kinestetik diberikan metode belajar ceramah, dimana siswa harus menyimak dan mendengarkan guru yang sedang berbicara di depan. Hal tersebut tentunya sangat bertentangan dengan karakteristik anak dengan kecerdasan kinestetik yang selalu ingin bergerak dan belajar praktek di luar ruangan.

Perbedaan gaya belajar dan tipe kecerdasan tersebut harus difahami oleh kita semua sebagai kekuatan anak untuk mencapai prestasinya. Sebagai contoh, anak dengan kecerdasan spasial yang menonjol dia dapat menciptakan sebuah karya seni. Untuk membuatnya menjadi lebih hebat, orang tua dapat mendukungnya untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal agar dapat berkomunikasi dengan orang dan memperlihatkan hasil karyanya. Kedua hal tersebut harus saling berkaitan, karena satu kecerdasan akan menopang kecerdasan yang lainnya. Dengan bimbingan dan dukungan orang terdekat, kecerdasan tersebut akan semakin berkembang lagi sehingga semua kecerdasan tersebut dapat optimal seluruhnya.