24 Maret 2017 14:36:21

Siswa Aktif Berkat Potensi Kecerdasan Kinestetik

Siswa Aktif Berkat Potensi Kecerdasan Kinestetik

Berlari, bergerak, aktif dan sulit diam sudah menjadi karakteristik khas semua anak-anak. Banyak guru yang mengeluhkan siswanya yang tidak mau diam karena khawatir terluka atau mengganggu orang lain. Padahal, reaksi siswa yang tidak mau diam itu karena rasa ingin tahunya yang besar. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya membuat mereka ingin mengeksplorasi keadaan atau benda yang ada disekelilingnya. Siswa yang memiliki gaya belajar yang aktif tersebut termasuk dalam dalam teori Multiple Intelligences disebut memiliki tipe kecerdasan kinestetik.

Kecerdasan kinestetik adalah keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide, perasaan dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan (propriopceptive) serta hal yang berkaitan dengan sentuhan (tactile & haptic) (Gardner, 2003). Siswa dengan kecerdasan kinestetik atau body-kinesthetic intelligence memproses pelajaran melalui sensasi tubuh. Dalam belajar, mereka selalu ingin bergerak atau memperagakan sesuatu. Karakteristik tersebut dapat kita temui pada kemampuan seorang atlet, penari, aktor, atau pemainpantomim.

Guru bisa mengenali anak dengan tipe kecerdasan tersebut dengan sangat mudah. Menurut Gardner (2003) berikut kemampuan menonjol terkait siswa dengan kecerdasan kinestetik.

  1. Mudah berekspresi dengan tubuh.
  2. Mengkaitkan pikiran dan tubuh.
  3. Kemampuan bermain ekspresi.
  4. Aktif bergerak, olahraga, atau menari.
  5. Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi.

Cara terbaik untuk memotivasi siswa dengan kecerdasan kinestetik adalah melalui seni peran, improvisasi dramatis, gerakan kreatif, dan semua jenis kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik. Beri mereka akses ke lapangan bermain, lapangan rintangan, gymnastic, kolam renang dan ruang olah raga. Beri juga mereka kesempatan untuk memperbaiki berbagai benda, membangun model, dan terlibat dalam kegiatan seni kerajinan tangan seperti mengukir kayu dan membentuk tanah liat (Armstrong, 2002). Bagi guru, akan menjadi sangat penting memiliki kegiatan yang menyalurkan kecerdasan siswa dalam kegiatan sehari-hari seperti membereskan rumah, membetulkan peralatan, berolah raga bersama, atau berkemah bersama keluarga.

Cara belajar kinestetik dapat mengadaptasi gaya belajar digunakan untuk anak ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) yang memiliki rentang perhatian pendek dan hiperaktif sehingga sulit di kontrol. Menurut Armstrong (2002) siswa seperti ini perlu bergerak, menyentuh, dan membangun untuk bisa belajar. Mengharuskan mereka duduk diam di sekolah dalam jangka waktu yang lama sama seperti memborgol kemampuan belajar mereka yang paling alami ke meja atau kursi. Mereka memerlukan banyak peluang untuk bergerak selama berada di sekolah: program olah raga dalam porsi besar, istirahat untuk meregangkan badan, studi lapangan, belajar melalui sentuhan, peragaan, dan cara-cara dramatis lain dalam mempelajari informasi baru.