08 September 2017 10:26:56

Upaya Pengentasan Buta Aksara dalam Rangka Hari Aksara Internasional

Sumber: https://pixabay.com/en/kid-reading-book-learning-girl-2554818/

Sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk mengajak seluruh masyarakat agar peduli terhadap pengentasan buta aksara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) setiap tanggal 8 September memperingati Hari Aksara Internasional yang sudah digagas oleh UNESCO melalui konferensi para menteri pendidikan tentang Pemberantasan Buta Huruf di Teheran, Iran, pada tanggal 8 sampai dengan 19 September 1965. Peringatan Hari Aksara Internasional pertama kali dilakukan pada tahun 1966. Semenjak itu, Hari Aksara Internasional terus dilakukan oleh seluruh negara di dunia pada setiap tahunnya sebagai wujud untuk memajukan agenda keakasaraan pada tingkat global, regional, dan juga nasional.

Angka Buta Aksara di Indonesia

Angka buta aksara di Indonesia saat ini adalah 2,07% dari seluruh penduduk Indonesia atau berada pada kisaran 3,4 juta jiwa. Masih terdapat 11 provinsi di Indonesia yang memiliki angka buta aksara di atas angka nasional pada rentang usia 15 sampai 59 tahun. 11 provinsi tersebut meliputi Provinsi Papua sebesar 28,75%, Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 7,91%, Provinsi Nusa Tenggara Timur 5,15%, Provinsi Sulawesi Barat sebesar 4,58%, Provinsi Kalimantan Barat sebesar 4,50%, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 4,49%, Provinsi Bali sebesar 3,57%, Provinsi Jawa Timur sebesar 3,47%, Provinsi Kalimantan Utara sebesar 2,90%, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 2,74%, serta Provinsi Jawa Tengah sebesar 2,20%.

Sementara itu, 23 provinsi lainnya telah berada di bawah angka nasional untuk jumlah jiwa yang buta aksara. Jika dilihat dari perbedaan jenis kelamin, perempuan memiliki angka buta aksara yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Angka buta aksara untuk laki-laki di Indonesia adalah sebesar 1.157.703 jiwa, sedangkan angka buta aksara untuk perempuan sebesar 2.258.990 jiwa. Dari tahun ke tahun, angka buta aksara di Indonesia memang terus mengalami penurunan. Namun demikian, perlu kesadaran dari seluruh masyarakat dan juga upaya dari pemerintah untuk benar-benar mengentaskan buta aksara di beberapa wilayah yang telah disebutkan di atas.

Upaya Pemerintah untuk Mengentaskan Buta Aksara

Tema Hari Aksara Internasional yang diangkat oleh UNESCO pada tahun ini adalah Literacy in a Digital World. Tema tersebut diterjemahkan oleh Kemendikbud menjadi Membangun Budaya Literasi di Era Digital. Tujuan pengambilan tema tersebut adalah untuk melihat jenis keterampilan keaksaran yang dibutuhkan orang untuk menavigasi masyarakat melalui media digital serta mengeksplorasi kebijakan keaksaraan yang efektif. Peringatan Hari Aksara Internasional merupakan kesempatan bagi pemerintah dan juga masyarakat untuk menyoroti peningkatan angka melek aksara di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya.

Walaupun angka buta aksara di Indonesia terus mengalami penurunan, namun minat dan daya baca masyarakat Indonesia masih rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University terkait dengan minat baca menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari total 61 negara, hanya setingkat di atas Botswana. Karena itulah, sebagai upaya untuk mengentaskan buta aksara sekaligus meningkatkan minat baca masyarakat, pemerintah menggalakkan gerakan lietrasi nasional. Adapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membangun 1.000 taman bacaan dan menyediakan 600 judul buku digital selama tahun 2017. Jenis taman bacaan yang akan dibangun adalah taman baca masyarakat, taman baca sekolah, taman baca keliling, serta taman baca digital. Melalui upaya tersebut, diharapkan minat baca masyarakat akan meningkat sehingga mendorong penurunan angka buta aksara di indonesia.