07 September 2017 09:10:51

Implementasi Pendidikan Antikorupsi di Sekolah

Sumber: https://www.flickr.com/photos/kedubesaustralia/29200299863/in/photostream/

Pemberantasan korupsi merupakan agenda utama reformasi yang diamanatkan oleh masyarakat Indonesia. Tindakan korupsi telah mengakar begitu kuat dan menjadi bahaya laten yang semakin mengikis moral masyarakat. Bisa dikatakan, korupsi merupakan permasalahan serius yang harus segera dientaskan.  Karena itulah, perlu adanya upaya untuk membudayakan antikorupsi di Indonesia. Budaya antikorupsi tersebut bisa diupayakan melalui pendidikan antikorupsi di sekolah. Pendidikan antikorupsi merupakan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi perilaku korupsi melalui upaya untuk mendorong generasi mendatang agar mengembangkan sikap menolak berbagai bentuk tindakan korupsi.

Pendidikan antikorupsi sangat penting bagi perkembangan psikologis siswa. Pola pendidikan yang dijalankan secara sistematis akan membuat siswa mengenal lebih dini mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan korupsi, termasuk sanksi yang akan diterima jika melakukan tindakan korupsi. Melalui pendidikan antikorupsi, diharapkan setiap individu sebagai bagian dari masyarakat berupaya mendorong generasi masa depan untuk mengembangkan sikap menolak tegas berbagai bentuk korupsi. Keberhasilan penanaman nilai-nilai antikorupsi di sekolah dipengaruhi cara penyampaian dan juga pendekatan pembelajaran yang digunakan ketika di sekolah. Untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi, sekolah bisa menyelenggarakan beberapa model pendidikan seperti berikut.

1.  Model Terintegrasi dalam Mata Pelajaran

Pendidikan antikorupsi secara terintegrasi pada mata pelajaran dilakukan dengan memilih nilai-nilai yang akan ditanamkan melalui materi bahasan di setiap mata pelajaran. Nilai-nilai antikorupsi bisa ditanamkan melalui pokok atau sub pokok bahasan yang berkaitan dengan nilai-nilai hidup. Dengan model semacam ini, semua guru adalah pengajar pembelajaran antikorupsi tanpa terkecuali. Karena itulah, guru harus benar-benar memahami persepsi tentang nilai-nilai antikorupsi yang akan ditanamakan melalui proses pembelajaran. Model pembelajaran seperti ini memiliki keunggulan, di mana pemahaman nilai-nilai antikorupsi tidak selalu bersifat informatif-kognitif, melainkan bersifat terapan pada setiap mata pelajaran.

2.  Model di Luar Pembelajaran (Melalui Ekstrakurikuler)

Pembelajaran antikorupsi juga bisa diberikan melalui kegiatan di luar pembelajaran, misalnya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Penanaman nilai-nilai antikorupsi dengan model ini lebih mengutamakan pengolahan serta penanaman nilai melalui suatu kegiatan. Keunggulan penerapan model ini ialah siswa akan memperoleh nilai-nilai melalui berbagai pengalaman yang kongkrit. Pengalaman akan lebih tertanam dalam diri siswa jika dibandingkan sekedar pemberian informasi. Siswa akan lebih terlibat dalam proses penggalian nilai-nilai kehidupan melalui kegiatan yang menyenangkan. Sayangnya model pembelajaran di luar kelas ini memiliki kelemahan, seperti tidak adanya struktur yang tetap dalam kerangka pendidikan dan pengajaran di sekolah. Dalam model ini dibutuhkan pendamping yang kompak dan memiliki persepsi yang sama untuk disampaikan kepada siswa.

3.  Model Pembiasaan dalam Seluruh Aktivitas dan Suasana Sekolah

Penanaman nilai-nilai antikorupsi juga bisa dilakukan melalui pembiasaan dalam seluruh aktivitas dan suasana di sekolah. Sikap pembiasaan ini sangat penting bagi siswa. Hal tersebut karena dengan sikap pembiasaan akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik siswa di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian baik pula. Berdasarkan pembiasaan itulah siswa akan menaati aturan yang ada di sekolah. Pembiasaan di sekolah tersebut nantinya akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari ketika di rumah dan juga ketika siswa sudah dewasa kelak. Menanam kebiasaan yang baik memang tidak mudah, bahkan bisa membutuhkan waktu yang lama. Namun kebiasaan yang sudah tertanam juga akan sulit diubah.