04 September 2017 13:32:57

Hidup Rukun dengan Teman

Uni, Cici, Eko, Dondo, Made dan Ale saling hidup rukun.

Uni, Cici, Eko, Dondo, Made, dan Ale berjalan bersama ketika pulang sekolah. Cici tampak sangat gembira kala itu.

“Kenapa kamu terlihat sangat gembira, Uni?” kata Cici yang berjalan di sebelahnya.

“Besok pagi adalah hari raya Idul Adha. Aku udah nggak sabar buat lihat penyembelihan hewan kurbannya,” jawab Uni antusias.

“Wah, asyik... Besok kita main ke rumahmu ya Un, terus kita buat sate,” kata Eko sambil mengelus perutnya. Tingkah Eko itu membuat teman-temannya tertawa.

“Besok kita harus datang pagi-pagi, supaya Eko bisa makan banyak sate. Hahaha...” kata Ale. Eko pun tersenyum malu.

“Eh, jangan datang terlalu pagi. Uni kan harus melaksanakan salat dulu,” kata Made.

“Iya, betul. Kalau kita datang terlalu pagi, nanti Uni tidak bisa melaksanakan ibadah,” lanjut Dondo.

“Iya iya, aku kan hanya bercanda,” jawab Ale sambil tersenyum.

 “Kalau begitu, kita datang setelah Uni sampai rumah saja,” ajak Cici.

 “Iya, benar. Kalau sudah sampai rumah, aku akan telepon kalian untuk datang,” kata Uni.  

Sesampainya mereka di rumah, Uni segera menemui ibunya. Ia menceritakan bahwa teman-teman akan mengunjunginya besok. Uni juga mengatakan bahwa teman-temannya memberi kesempatan dirinya untuk melaksanakan salat di masjid. Ibu Uni terlihat bahagia mendengar cerita itu. Ibu mengatakan bahwa teman-teman Uni adalah anak yang baik. Mereka tidak membeda-bedakan teman serta mau menghormati orang lain yang berbeda agama dengan mereka.

Keesokan harinya, Uni dan keluarga merayakan Idul Adha dengan mengikuti salat bersama di masjid dilanjutkan dengan melihat penyembelihan hewan kurban. Setelah Uni sampai di rumah ia segera menelepon teman-temannya. Mereka pun berdatangan ke rumah Uni.

“Wah, aku sudah tidak sabar untuk makan sate kambing hari ini, nyam nyam...” kata Eko.

“Mari, kita buat sate di teras rumah,” kata ayah Uni yang telah selesai menyiapkan peralatan untuk membuat sate. Uni dan teman-temannya membuat sate ditemani ayah.

“Om, mengapa Idul Adha dilakukan dengan memtong hewan?” tanya Cici pada ayah Uni.

“Memotong hewan adalah simbol keikhlasan dalam melakukan sesuatu untuk Tuhan,” jelas ayah.

“Lalu, daging ini dibagikan kepada siapa saja?” lanjut Dondo bertanya.

“Dibagikan kepada seluruh masyarakat sekitar masjid tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Tak lupa juga, kita membagikan untuk orang-orang yang membutuhkan,” jelas ayah.

“Wah, inikah wujud hidup rukun dengan sesama umat beragama?” tanya Made.

“Benar, seratus untuk Made,” sahut ayah.

Setelah selesai membuat sate, mereka berkumpul dan bersiap untuk makan. Tak lupa, sebelum makan mereka berdoa sesuai agama masing-masing. Ingat, kita harus selalu menghormati teman meskipun mereka berbeda agama dengan kita, seperti yang dilakukan Uni dan teman-temannya. Sikap saling menghormati itu dapat meciptakan kerukunan antarumat beragama.