29 Agustus 2017 10:19:37

Mengenal Disgrafia pada Anak

Sumber: https://pixabay.com/en/writing-book-business-education-2652177/

Ada beberapa jenis gangguan belajar yang dialami oleh anak, salah satunya adalah disgrafia. Disgrafria adalah gangguan belajar yang menyebabkan anak tidak mampu menulis atau mengekspresikan pikiran dan perasaannya ke dalam bentuk tulisan. Umumnya, disgrafia diderita oleh anak ketika ia mulai belajar. Anak yang mengalami disgrafia tidak bisa menyusun kata dengan baik dan tidak bisa mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Bisa dikatakan, anak dengan disgrafia adalah anak yang mengalami kesulitan ketika belajar menulis, terlepas dari kemampuannya untuk membaca.

Anak yang menderita disgrafia akan mengalami hambatan menulis secara fisik, misalnya tidak dapat memegang pensil dengan mantap atau memiliki tulisan tangan yang buruk. Kelainan neurologis pada anak yang mengalami disgrafia seringkali diartikan oleh orang tua dan guru sebagai tingkat intelegensi yang rendah. Akibatnya, anak sering mengalami frustasi, karena sebenarnya anak yang mengalami disgrafia ingin mengekpresikan dan mentransfer pikiran dan juga pengetahuan yang telah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja anak yang mengalami disgrafia kesulitan untuk melakukan hal tersebut. 

Ciri-ciri Anak dengan Disgrafia

Ada beberapa ciri anak yang menderita disgrafia, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf pada tulisan yang dibuat oleh anak.
  2. Ketika anak menulis, penggunaan huruf kapital dan huruf kecil masih tercampur (acak).
  3. Anak terlihat harus berusaha keras untuk mengomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya melalui tulisan.
  4. Anak kesulitan memegang pulpen atau pensil dengan mantap. Cara anak memegang pulpen atau pensil seringkali terlalu dekat, atau bahkan hampir menempel dengan kertas.
  5. Anak biasanya berbicara sendiri ketika sedang menulis, atau justru terlalu memperhatikan tangan yang sedang digunakan untuk menulis.
  6. Cara anak menulis biasanya tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
  7. Anak biasanya tetap mengalami kesulitan menulis meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

Menghadapi Anak dengan Disgrafia

Untuk menghadapi anak dengan disgrafia, orang tua terlebih dahulu harus paham bahwa disgrafia tidak disebabkan oleh tingkat intelegensi yang rendah ataupun kemalasan anak. Gangguan belajar disgrafia juga tidak disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap anak, ataupun proses visual motoriknya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menghadapi anak dengan disgrafia.

  1. Cobalah untuk memahami keadaan anak. Usahakan untuk tidak membandingkan keadaan anak yang mengalami disgrafia dengan anak lain yang normal. Membandingkan kemampuan anak dengan anak lain justru bisa membuat anak semakin frustasi.
  2. Membuat sajian tulisan cetak. Orang tua bisa memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menuangkan idenya dengan menggunakan media komputer. Penggunaan komputer akan memungkinkan anak memanfaatkan sarana korektor ejaan sehingga anak mengetahui kesalahannya secara langsung.
  3. Bangun kepercayaan diri anak dengan memberikan pujian pada setiap usaha yang telah dilakukan oleh anak. Tidak hanya itu, usahakan orang tua tidak menyepelekan hal-hal kecil yang dilakukan oleh anak, sebab hal tersebut bisa membuat anak merasa rendah diri dan frustasi.
  4. Latihlah anak untuk terus menulis. Usahakan setiap peristiwa menjadi saat-saat bagi anak untuk belajar menulis. Orang tua bisa melatih kemampuan menulis anak dengan cara yang menarik, seperti menulis surat untuk teman, untuk orang tua, atau menulis pada selembar kartu pos.