28 Agustus 2017 10:30:14

Mengenal Diskalkulia pada Anak

Sumber: https://pixabay.com/en/people-child-school-genius-316506/

Diskalkulia merupakan salah satu jenis gangguan belajar pada anak. Jenis gangguan belajar diskalkulia mungkin masih jarang diketahui oleh banyak orang tua. Menurut penelitian, sekitar 5% anak usia sekolah dasar mengalami diskalkulia. Sayangnya, banyak orang tua yang kesulitan mengenali gejala diskalkulia pada anak. Secara umum, diskalkulia merupakan gangguan belajar yang berkaitan dengan kemampuan berhitung yang mengarah pada bidang studi matematika. Namun, secara lebih spesifik, diskalkulia bisa diartikan sebagai gangguan pada kemampuan kalkulasi secara sistematis yang dibagi menjadi bentuk kesulitan kalkulasi dan kesulitan berhitung.

Ciri-ciri Diskalkulia pada Anak

Anak yang mengalami diskalkulia akan menunjukkan kesulitan dalam memahami berbagai macam proses matematis. Hal tersebut biasanya akan ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang berkaitan dengan angka ataupun simbol matematis. Untuk lebih lengkapnya, berikut ini ciri-ciri diskalkulia pada anak.

  1. Anak tidak memahami proses matematis, biasanya ditandai dengan kesulitan mengerjakan tugas yang berkaitan dengan angka atau simbol matematis.
  2. Anak kesulitan menggunakan konsep waktu. Anak biasanya bingung mengurutkan masa lampau dan masa sekarang.
  3. Anak kesulitan memahami konsep nilai tempat, seperti satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya.
  4. Anak kesulitan untuk memfokuskan diri khususnya pada mata pelajaran matematika. Akan tetapi memiliki kemampuan berbahasa yang normal.
  5. Anak kesulitan mengikuti aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan permainan yang berhubungan dengan sistem skor.
  6. Anak biasanya akan memberikan jawaban yang berubah-ubah saat diberikan pertanyaan seputar perhitungan, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
  7. Anak kesulitan melakukan hitungan matematis pada kehidupan sehari-hari, seperti transaksi jual-beli, kesulitan menghitung jumlah uang kembalian, dan sebagainya.
  8. Selain kesulitan pada mata pelajaran matematika, anak yang mengalami diskalkulia juga kesulitan memahami not angka pada pelajaran musik sehingga menyebabkan anak kesulitan memainkan musik.

Menghadapi Anak dengan Diskalkulia

Diskalkulia merupakan gangguan belajar yang dibawa sejak lahir, dengan kata lain bersifat genetis. Meskipun diturunkan secara genetis, bukan berarti orang tua tidak bisa melakukan upaya untuk membantu anak memahami matematika. Untuk menghadapi anak yang mengalami diskalkulia, orang tua bisa melakukan beberapa upaya berikut ini.

  1. Cobalah untuk memvisualisasikan konsep matematika yang sulit dimengerti anak menggunakan gambar atau cara lain untuk menjembatani kesulitan yang dihadapi oleh anak.
  2. Orang tua juga bisa menyuarakan konsep matematika yang sulit dimengerti anak dan meminta anak untuk menyimak dengan cermat. Anak diskalkulia biasanya tidak kesulitan memahami konsep secara verbal.
  3. Biarkan anak mengeksplorasi diri mereka. Ajarkan sistem perhitungan kepada anak menggunakan jari, kertas scratch, atau alat peraga lain yang mudah ditemukan dan mudah digunakan.
  4. Gunakan pensil warna untuk membedakan setiap operasi hitung. Sebagai contoh, gunakan tanda merah untuk tanda minus ( - ), hijau untuk tanda plus ( + ), dan lain sebagainya. Hal tersebut akan membantu anak untuk mengartikan simbol agar tidak rancu.
  5. Mengajak anak menggunakan matematika dalam kegiatan sehari-hari, seperti dengan menghitung jumlah kursi yang ada di meja makan, menghitung jumlah pensil yang ada di kotak pensil, dan lain sebagainya.
  6. Pujilah setiap kemajuan yang dilakukan oleh anak, namun jangan terlalu menekan anak untuk pandai berhitung. Jangan lupa untuk selalu berkoordinasi dengan guru di sekolah untuk menentukan strategi belajar anak, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan berbagai tindakan yang dianggap perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak.