15 Agustus 2017 15:50:01

Bela Diri Bukan untuk Saling Menyakiti

Ale, Dondo dan Eko belajar bahwa latihan bela diri bukan untuk membalas dengan kekerasan.

Sore itu, Ale mengajak Eko dan Dondo untuk ikut berlatih bela diri. Latihan bela diri dilakukan di halaman sekolah. Sudah beberapa kali mereka berlatih bersama. Pelatih bela diri mereka bernama Kak Yovan. Kak Yovan adalah pelatih yang baik dan sabar. Kak Yovan melatih mereka supaya mereka bisa membela diri dengan baik.

“Mengapa adik-adik ingin berlatih bela diri? “ Tanya Kak Yovan ketika mereka melakukan pemanasan.

“Aku ingin bisa melindungi ibu dan kakak, “ jawab Dondo.

“Supaya badanku bisa tumbuh sehat dan kuat,” jawab Eko sambil mengelus perutnya. Kedua temannya tertawa melihat tingkah Eko.

“Kalau aku ingin bisa melawan para penjahat,” jawab Ale bersemangat.

Kak Yovan tersenyum mendengar jawaban mereka. Berlatih bela diri memang seharusnya dilakukan untuk tujuan yang baik.

“Badung dan Tengil selalu bertingkah nakal. Mereka sering mencubit pipi dan perutku, rasanya sakit sekali. Apakah aku boleh membela diri, Kak? “ tanya Eko.

“Tentu saja harus dibalas, Eko! “ kata Ale.

“Tidak, kita tidak boleh membalasnya dengan kekerasan!” jawab Dondo.

“Menurut adik-adik, apakah membalas dengan menyakiti adalah cara yang baik?” tanya kak Yovan.

“Tentu baik, Kak! Aku selalu kasihan melihat Eko selalu diganggu oleh Badung dan Tengil. Kita balas saja supaya mereka kapok! kata Ale.

“Jangan Ale, nanti mereka malah akan semakin menjadi,“ kata Dondo. Sementara, Eko terlihat bingung tidak tahu harus menjawab apa.

Kak Yovan menengahi mereka bertiga. Diajaknya Ale, Dondo dan Eko untuk berdiskusi.

“Adik-adik, kita belajar bela diri bukan untuk membalas dengan kekerasan. Kita boleh membela diri, tapi bukan dengan membalas perlakuan mereka, ya. Membela diri maksudnya melindungi diri kita dari luka fisik yang mungkin timbul. Misal, kita bisa melindungi diri dengan tangan supaya ketika dipukul atau dicubit tidak mengenai bagian tubuh yang rawan seperti kepala atau perut,” Kata Kak Yovan sambil mempraktikkan gerak menangkis.

“Walaupun kita merasa marah karena disakiti, tahan kuat niat kita untuk membalas perlakuan mereka. Kalau sampai kita membalas dan orang lain melihat kita melakukan kekerasan, bisa-bisa justru kita yang dituduh nakal,” kata Kak Yovan sambil memperagakan sikap menarik dan menghembuskan nafas panjang supaya lebih tenang.

“Kalian juga harus berani dan jangan menunjukkan rasa takut ketika menghadapi mereka. Katakan jangan atau tidak jika kalian kembali diganggu. Terakhir, mintalah bantuan orang dewasa seperti guru atau orang tua. Apalagi kalau kenakalannya sudah keterlaluan dan membahayakan. Kalian akan butuh bantuan orang dewasa untuk menegur mereka,” kata Kak Yovan menutup penjelasannya. Ale, Dondo dan Eko mengangguk-angguk setuju. 

“Aku rasa saran Kak Yovan jauh lebih baik. Aku pun tidak mau menjadi nakal karena membalas mereka dengan kekerasan,“ kata Ale tersipu menyadari kesalahannya.

Dondo dan Eko tertawa mendengarnya. Kak Yovan juga tersenyum senang karena Ale, Dondo dan Eko bisa mengerti bahwa berlatih bela diri tidak menjadikan mereka bisa seenaknya menggunakan kemampuan mereka.  Mereka pun melanjutkan latihan bela diri sore itu dengan riang gembira.