24 Maret 2017 13:28:56

Menggali Potensi Kecerdasan Matematis-Logis pada Siswa

Menggali Potensi Kecerdasan Matematis-Logis pada Siswa

Setiap siswa hadir dengan potensi dan keistimewaannya tersendiri. Guru sebagai fasilitator pendidikan memiliki peran penting dalam perkembangan potensi seorang siswa di sekolah. Perlu kita sadari bahwa setiap siswa istimewa dan unik sehingga kita seringkali menemukan perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Disinilah diperlukan adanya pengetahuan bagi guru untuk mengenali tipe kecerdasan yang ada di setiap siswa.

Salah satu tipe kecerdasan dalam teori Multiple Intelligances atau Kecerdasan Majemuk yang dikenalkan oleh Howard Gardner seorang ahli perkembangan dari Harvard University yaitu tipe kecerdasan matematis-logis atau dalam istilah lain dikenal logical-mathematical smart atau logical-mathematical intelligence. Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan yang berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif.

Siswa dengan kecerdasan matematis-logis akan memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi. Kecerdasan ini memiliki ciri-ciri yaitu kepekaan pada pola hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logis dan abstraksi lain (Gardner, 2003). Berbeda dengan tipe kecerdasan lain, siswa dengan kecerdasan matematis-logis akan dapat dengan mudah dikenali di dalam kelas serta sering dijuluki dengan siswa genius. Kemampuannya memecahkan masalah logika dan berkaitan bilangan akan membuatnya terlihat menonjol dari pada siswa lainnya. Seorang siswa dengan kecerdasan logis memiliki kemampuan menonjol terkait hal sebagai berikut (Suparno, 2004) :

  1. logika,
  2. reasoning atau pola sebab akibat,
  3. klasifikasi dan kategorisasi,
  4. abstraksi dan simbolisasi,
  5. pemikiran induktif dan deduktif,
  6. menghitung dan bermain angka,
  7. pemikiran ilmiah,
  8. problem solving, dan
  9. silogisme.

Seseorang dengan kecerdasan matematis-logis yang tinggi biasanya memiliki ketertarikan terhadap angka-angka, menikmati ilmu pengetahuan, mudah mengerjakan matematika dalam benaknya, suka memecahkan misteri, senang menghitung, suka membuat perkiraan, menerka jumlah, mudah mengingat angka, menikmati permainan yang menggunakan strategi, memperhatikan antara perbuatan dan akibatnya (hubungannya dengan logika), senang menghabiskan waktu dengan mengerjakan kuis atau teka-teki, senang menemukan cara kerja komputer, senang mengelola informasi kedalam tabel atau grafik dan mereka mampu menggunakan komputer lebih dari sekedar bermain games (Gardner, 2003).

Adapun gaya belajar siswa dengan kecerdasan matematis-logis dapat belajar dengan membentuk konsep dan mencari pola serta hubungan yang abstrak. Guru dapat menggunakan beberapa cara berikut untuk mengembangkan potensi kecerdasan mereka (Armstrong, 2000).

  1. Guru dapat memberi mereka materi yang konkret yang bisa dijadikan bahan percobaan, waktu yang berlimpah untuk mempelajari gagasan baru, kesabaran dalam menjawab pertanyaan ingin tahu mereka, dan penjelasan logis untuk jawaban yang guru berikan.
  2. Guru dapat memberikan stimulasi degan permainan seperti catur, teka-teki logika, perangkat ilmu pengetahuan, dan permainan komputer yang melibatkan daya penalaran logis dan fokus. Bila perlu, lakukan permainan misteri seperti permainan mencari petunjuk yang membutuhkan logika deduktif.
  3. Guru dapat memberikan motivasi dengan mengajak ke tempat-tempat yang mendorong pemikiran ilmiah, termasuk museum ilmu pengetahuan, pameran komputer, dan pameran elektronik.
Dengan mengetahui tipe kecerdasan, akan mudah bagi guru sebagai fasilitator pendidikan menentukan gaya belajar yang paling tepat. Hal tersebut dapat menjadi acuan guru atau orang tua untuk mengarahkan keahlian siswa dengan kecerdasan matematis-logis.