09 Agustus 2017 10:33:52

Pentingnya Melatih Kemandirian Anak Sebelum Masuk Sekolah

Anak memerlukan beberapa persiapan untuk membiasakan kemandiriannya sebelum memasuki lingkungan sekolah.

Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak setelah masa kecilnya berada di lingkungan keluarga. Pada umumnya, lingkungan keluarga selalu memberi rasa nyaman pada anak karena di sana anak merasa disayangi dan dilindungi. Namun saat menginjak usia sekolah, tidak semua anak mampu dengan cepat menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Seperti yang kita tahu, masih banyak anak-anak yang harus diantar dan ditunggu orang tuanya saat sekolah, bahkan ada yang sampai mogok sekolah karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan di sekolahnya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan mengajarkan kemandirian sejak dini pada anak.

Anak memerlukan beberapa persiapan untuk membiasakan kemandiriannya sebelum memasuki lingkungan sekolah. Persiapan tersebut dapat dilakukan melalui latihan melakukan berbagai kegiatan sehari-hari, seperti membereskan tempat tidur, membantu menyiapkan makan malam, merapikan mainan setelah dipakai, dan menata pakaian milik sendiri. Kemandirian pada seorang anak memang tidak didapatkan secara instan. Anak memerlukan waktu untuk mengembangkan berbagai kecakapannya. Kesabaran adalah kunci utama bagi orang tua yang tengah mengajarkan kemandirian pada anak.

Kebiasaan mandiri saat di rumah akan membantu anak untuk menerapkan budaya mandiri di sekolah. Membahas tentang kemandirian di sekolah, salah satu negara yang terkenal akan hal tersebut adalah Jepang. Sebagai negara berkembang, tidak ada salahnya jika Indonesia melihat potret pendidikan Negeri Sakura, yang sudah lebih dulu maju. Kita dapat mengadopsi bagaimana sistem pendidikan Jepang dapat menghasilkan anak-anak yang mandiri. Sebelumnya, mari kita simak terlebih dahulu berbagai faktor yang membentuk kemandirian seorang anak di Jepang berikut ini.

1.  Aturan di Sekolah

Beberapa sekolah di Jepang membuat peraturan agar anak tidak diantar jemput oleh orang tuanya. Peraturan itu mengharuskan anak menggunakan transportasi publik, sepeda, atau jalan kaki untuk pergi ke sekolah. Dengan membiasakan anak tidak diantar jemput orang tua, anak akan berlatih untuk bertanya jalan kepada orang lain, mengerti rambu-rambu jalan, dan etika saat berada di tempat umum.

2.  Pendidikan di Rumah

Sejak usia 3-5 tahun anak-anak di Jepang sudah diajarkan kemandirian untuk melakukan kegiatan sederhana di rumah dan mengelola uang. Orang tua juga mulai melatih tanggung jawab anak, misalnya dengan menyuruhnya belanja ke luar rumah. Di usia ini pula, anak-anak diajari menata sendiri keperluan sekolah, diperkenalkan berbagai jenis transportasi publik, etika menyebrang, dan mengatasi masalah ketika tersesat. Orang tua senantiasa mendidik anak di rumah dengan menanamkan nilai-nilai kemandirian.

3.  Lingkungan

Kebijakan pemerintah Jepang sangat mendukung untuk menciptakan kemandirian pada anak. Pemerintah Negeri Sakura tersebut telah berkomitmen untuk menciptakan ruang publik yang aman untuk anak. Lingkungan sekitar juga menciptakan beragam fasilitas dan atmosfer yang ramah bagi anak. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir ketika anaknya harus menggunakan berbagai fasilitas publik secara mandiri di usia yang masih kecil.

Menerapkan kemandirian pada anak di Indonesia, terutama untuk aktivitas di luar rumah, masih menjadi pertimbangan tersendiri bagi orang tua. Bagaimana tidak, kejahatan jalanan yang mengancam anak saat ini cukup marak terjadi. Itulah salah satu alasan kuat bagi orang tua untuk tidak meninggalkan anaknya sendirian. Meskipun demikian, kemandirian tetap dapat ditanamkan pada anak sejak dini yaitu melalui pendidikan di rumah. Semangat mengajarkan kemandirian pada anak ya, ayah dan bunda. Biarkan anak tumbuh dengan mandiri karena tidak selamanya kita bisa terus mengulurkan tangan bagi mereka.