07 Agustus 2017 11:51:57

Warna-Warni Pelangi

Eko dan teman-teman melihat indahnya warna pelangi.

Hari itu, hujan turun cukup deras. Made dan teman-temannya bermain di dalam rumah Eko. Mereka asik bermain sambil menunggu hujan reda. Cici kemudian berjalan ke pintu depan untuk memastikan hujan sudah berhenti.

“Hujannya reda! Hujan reda! Ayo, kita bisa bermain di halaman!” kata Cici sambil memanggil teman-temannya.

Made dan teman-teman lainnya segera bergegas pergi ke halaman. Udara di luar terasa sejuk sehabis hujan. Pohon dan rumput juga terlihat masih basah dan segar.

“Lihat, ada pelangi di sana!” teriak Dondo sambil menunjuk ke arah langit.

Di langit terlihat semburat lengkung berwarna-warni yang indah. Teman-teman Dondo langsung melihat ke arah yang dimaksud Dondo. Mereka semua berdecak kagum. Mereka pun kompak menyanyikan lagu pelangi sambil menari-nari.

“Darimana ya asal pelangi?” tanya Made pada teman-temannya.

“Dari naga. Pelangi adalah naga yang mencari air di bumi. Begitulah cerita yang pernah kudengar,” jelas Eko dengan bangga.

“Bukan! Pelangi berasal dari tujuh bidadari yang turun ke bumi. Mereka mengubah wujudnya menjadi pelangi ketika turun ke bumi,” kata Uni.

Melihat Eko dan teman-temannya berbicara seru sekali, ayah Eko pun mendekati mereka. Ayah tersenyum mendengar komentar Eko dan teman-teman tentang asal-usul pelangi.

“Anak-anak, ayo masuk ke dalam,” kata Ayah memanggil mereka. Eko dan teman-temannya mengikuti ayah masuk ke dalam.

“Ayah tanya, tahukah kalian darimana asal pelangi itu?” tanya Ayah.

“Aku tahu, aku tahu! Pelangi berasal dari naga yang ditumpangi para bidadari,” jawab Cici.

“Hahahahahahahaaa,” teman-teman dan Ayah tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Cici.

“Eh? Apa aku salah dengar? Hahahaha” tanya Cici sambil mencari letak kesalahannya.

Cici tersipu malu setelah menyadari kesalahannya. Cici tidak mendengarkan dengan saksama ketika temannya bercerita. Cici menggabungkan dua cerita yang berbeda. Hal itu membuat teman-teman dan ayah Eko tertawa.

“Eko, tolong ambilkan senter di laci. Bawakan juga gelas kaca berisi air, nak,” pinta Ayah pada Eko.

“Baik yah,” jawab Eko.

Tak lama kemudian, Eko membawa benda-benda yang diminta oleh ayahnya. Eko dan teman-teman kebingungan melihat benda-benda tersebut. Ayah segera menyuruh mereka untuk duduk di karpet. Kemudian, ayah meletakkan gelas di atas meja dan mengarahkan nyala senter ke tembok melalui gelas yang berisi air.

“Wow, ajaib! Pelangi muncul teman-teman. Ayahku memanggil pelangi,” teriak Eko.

“Dimana naga atau bidadarinya ya?” tanya Ale.

Eko dan teman-teman terkagum-kagum melihat ayah memunculkan pelangi. Mereka memperhatikan sekitar gelas dan senter yang digunakan ayah untuk memanggil pelangi. Namun, mereka tidak menemukan naga atau pun bidadari. Melihat Eko dan teman-temannya penasaran, ayah pun menjelaskan asal pelangi.

“Pelangi bukan berasal dari naga atau tujuh bidadari, anak-anak. Pelangi terjadi karena adanya sifat cahaya yang dapat dibiaskan dan diuraikan. Maksudnya, cahaya dari senter melewati udara dan mengenai gelas yang berisi air. Ketika cahaya melewati dua medium yang berbeda, maka cahaya akan dibiaskan dan terurai menjadi berbagai warna. Begitu pula dengan pelangi sehabis hujan,” Ayah menjelaskan.

“Oh, ternyata begitu,” jawab mereka sambil mengangguk-angguk tanda mengerti. Sekarang Eko dan teman-teman tahu darimana pelangi berasal. bukan dari naga maupun para bidadari, ternyata pelangi muncul akibat cahaya yang terurai menjadi warna-warni yang indah. Mereka senang karena mendapatkan ilmu baru dari peristiwa alam yang mereka saksikan hari ini.