28 Juli 2017 15:36:18

Terjatuh karena Sombong

Tengil terjatuh karena menyombongkan sepeda barunya di depan teman-teman.

Pagi ini, Tengil sangat gembira. Bapak memberi kejutan dengan membelikan Tengil sepeda baru. Bapak memberikannya sebagai hadiah karena Tengil sudah pintar bangun pagi.

“Terima kasih, Bapak!” seru Tengil sambil mencium tangan bapaknya. Ia meloncat-loncat gembira mengelilingi sepeda barunya. Bapak dan ibu tertawa melihat tingkah Tengil.

“Sama-sama, Tengil. Selalu jadi anak yang rajin dan patuh kepada orang tua, ya “ pesan bapak.

“Berhati-hatilah bila bersepeda. Jangan lupa, berbagilah dengan meminjamkannya kepada teman-temanmu,” tambah ibu.

Tengil mengangguk mengiyakan. Ia sudah tidak sabar memamerkan sepeda barunya kepada teman-teman.

Pada sore hari, Tengil berpamitan kepada bapak dan ibu untuk bermain ke lapangan. Tengil mengayuh sepedanya dengan semangat. Ia sangat senang mengendarai sepeda barunya. Sampai di lapangan, Tengil bertemu dengan teman-teman. Ia bergaya memamerkan sepeda barunya. Teman-teman langsung berdatangan mengelilinginya.

“Sepedamu bagus sekali, Tengil. Baru, ya?” ujar Cici kagum. Tengil hanya tersenyum.

“Wah, ini kan sepeda yang kemarin aku lihat di toko. Sepeda ini memang sangat bagus!” puji Eko.

“Iya, aku masih harus menabung untuk membelinya. Kata ayahku, aku bisa memilikinya setelah naik kelas” timpal Ale. Tengil yang mendengar kekaguman teman-temannya merasa bangga.

“Tengil, aku boleh kan meminjam sepedamu sebentar?” pinta Made.

Enak saja, sepeda ini masih baru. Kalau mau beli sendiri, dong!” kata Tengil. Teman-teman kecewa dengan sikap Tengil yang tidak mau berbagi.

“Biar kutunjukkan saja bagaimana mengendarainya,“ Kata Tengil dengan sombong.

Tengil mengayuh sepedanya dengan cepat. Tengil lupa nasehat ibunya untuk berkendara dengan hati-hati. Tak disangka ada batu yang menahan laju sepedanya. Tengil tidak bisa mengendalikan laju sepeda dan terjatuh. Tangan dan kaki Tengil terluka, sementara sepeda barunya menjadi rusak dan kotor. Teman-teman segera menolong dan membantu Tengil pulang ke rumah.

“Maafkan aku, teman-teman. Aku tadi terlalu sombong memamerkan sepeda baruku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi” kata Tengil penuh sesal. Teman-teman menganguk dan memaafkan Tengil. Dalam hati, Tengil berjanji tidak akan sombong lagi dan lebih berhati-hati ketika bermain sepeda.