24 Maret 2017 13:07:28

Melihat Kecerdasan Siswa melalui Teori Multiple Intelligences

Melihat Kecerdasan Siswa melalui Teori Multiple Intelligences

Menjadi seorang guru berarti menjadi fasilitator pendidikan disekolah. Kita sebagai guru memiliki tugas penting memberikan pendidikan sebaik mungkin kepada setiap siswa. Seringkali, kita menemukan beragam karakteristik siswa yang berbeda-beda di  dalam kelas. Sangatlah penting bagi setiap guru untuk mengetahui karakteristik siswa, salah satunya adalah tipe kecerdasan siswa. Dengan begitu, kita dapat memahami bahwa tidak ada siswa yang bodoh, hanya saja setiap siswa memiliki keunikan yang tersimpan dalam tipe kecerdasan yang dimiliki setiap siswa.

Sejak tes IQ diciptakan hampir seratus tahun lalu, semua orang selalu melihat kecerdasan sebagai sesuatu (tunggal) yang dibawa sejak lahir dan yang tidak banyak berubah sepanjang kehidupan seseorang (Armstrong, 2000). Jika kita sebagai guru melihat siswa hanya dari nilai IQ atau kecerdasan bawaan maka akan muncul kesimpulan yang jamak kita temui. Kita dapat terjebak pada paradigma yang tidak sepenuhnya benar, bahwa anak yang memiliki IQ rendah berdampak pada prestasi belajar rendah dan anak yang memiliki IQ tinggi berdampak pada prestasi belajar yang tinggi juga.

Meskipun tes IQ tidak menunjukan hasil yang tinggi, namun kita sebagai guru sebaiknya mengetahui bahwa setiap anak memiliki kelebihan khusus yang harus dikembangkan. Kelebihan khusus pada setiap anak pertama kali dikembangkan oleh Gardner, ahli perkembangan dan guru besar pendidikan pada Graduate School of Education, Harvard University, Amerika Serikat. Gardner mengemukakan teorinya tentang Multiple Intelligences yang sukses dipublikasikan pada tahun 1993.

Teori Gardner, seperti dijelaskan dalam Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya (Suparno, 2004) menemukan setidaknya sembilan tipe kecerdasan yang dimiliki setiap siswa, yaitu:

  1. kecerdasan linguistik (linguistic intelligence),  
  2. kecerdasan matematis-logis (logical-mathematical intelligence),
  3. kecerdasan ruang-visual (spatial intelligence),
  4. kecerdasan kinestetik-badani (bodily-kinesthetik intelligence),
  5. kecerdasan musikal (musical intelligence),
  6. inteligensi interpersonal (interpersonal intelligence),
  7. kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence),
  8. kecerdasan lingkungan/ naturalis (naturalist intelligence),
  9. dan kecerdasan eksistensial (existensial intelligence).

Multiple Intelligences atau kecerdasan majemuk yang dikemukakan Gardner dapat menjadi panduan guru untuk melihat sisi lain kecerdasan dari setiap siswa. Bahwa setiap siswa memiliki kecerdasannya masing-masing, dimana setiap kecerdasan tersebut memerlukan bimbingan agar potensi kecerdasan setiap siswa berkembang dengan optimal melalui metode pembelajaran yang tepat. Dengan memahami berbagai tipe kecerdasan tersebut, maka kita sebagai guru akan lebih siap apabila menemukan keragaman karakteristik siswa di dalam kelas.

Semakin banyak tipe kecerdasan siswa di dalam kelas yang muncul, semakin guru terpacu untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dan tidak hanya berfokus pada kelemahan mereka. Oleh karena itu, pemahaman bahwa setiap siswa itu cerdas dalam bidangnya dapat membantu guru untuk menemukan tipe kecerdasan siswa, perbedaan gaya belajar siswa dan cara belajar yang tepat bagi siswa. Pemahaman ini penting supaya kita sebagai guru  tidak terjebak pada kesalahan paradigma dalam belajar, serta dapat menjadi fasilitator pendidikan yang dapat membawa perubahan.