27 Juli 2017 11:01:12

Cara Bijak Menghadapi Siswa Pendiam di Kelas

Selain membangun rasa percaya diri, ada beberapa cara lain yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi siswa pendiam.

Setiap anak memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk lingkungan sekolah. Dalam satu kelas, akan terlihat ada anak yang cepat berinteraksi dengan teman-teman dan gurunya, namun ada pula yang terlihat malu jika harus berinteraksi dengan orang lain. Anak pemalu biasanya memperlihatkan perilaku yang berbeda antara saat ia berada di rumah dan di sekolah. Ketika di rumah, anak mampu berbicara dan mengekspresikan keinginannya, tetapi saat di sekolah anak mogok bicara dan hanya menggunakan bahasa non verbal seperti mengangguk, menunjuk, dan menggeleng. Padahal, sebagai seorang siswa, anak seharusnya berani berekspresi untuk menunjukkan sejauh mana kemampuannya dalam pembelajaran. Keberanian siswa berekspresi juga akan mempermudah penilaian guru terhadap siswa tersebut. Lantas, apa yang harus dilakukan guru jika mendapati siswa yang pendiam?

Salah satu cara menghadapi siswa pendiam adalah dengan membangun rasa percaya diri. Dengan modal percaya diri, siswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, khususnya lingkungan sekolah, dengan cepat. Selain membangun rasa percaya diri, ada beberapa cara lain yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi siswa pendiam, diantaranya sebagai berikut.

1.  Komunikasi secara Individual

Guru dapat melakukan komunikasi secara individual dengan siswa pendiam setelah kelas usai. Bicarakan tema-tema di luar pembelajaran, seperti kebiasaan sehari-hari atau tentang kegemaran siswa tersebut. Jika di dalam kelas guru tidak bisa melihat potensi siswa karena pemalu, maka dengan obrolan di luar kelas secara individu guru dapat lebih mengenal siswa untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

2.  Jangan Memberi Predikat

Meskipun seorang guru tahu bahwa terdapat siswa pemalu di kelasnya, jangan sekali-kali memberikan predikat pemalu atau pendiam kepada siswa tersebut, terlebih di depan teman-temannya. Bila sering disebut pemalu, dikhawatirkan hal itu akan berpengaruh pada psikologis siswa yang dapat berujung pada penarikan diri dari lingkungannya. Dibanding memberikan predikat, memberi motivasi kepada siswa pendiam agar mampu berinteraksi seperti teman-temannya dirasa lebih bermanfaat bagi siswa tersebut. Selain itu, ada baiknya pula guru menerapkan strategi mengajar yang dapat memberikan ruang bagi siswa pendiam untuk berekspresi. 

3.  Kembangkan Kecerdasan Linguistik dan Interpersonal

Penyebab siswa menjadi pendiam tentu berkaitan erat dengan kecerdasan bahasa dan kecerdasan interpersonal yang dimilikinya. Siswa dengan intelegensi linguistik tinggi akan berbahasa dengan lancar, baik, dan lengkap, serta mudah mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbahasanya. Sedangkan siswa dengan kecerdasan interpersonal tinggi akan memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Kedua kecerdasan inilah yang perlu dikembangkan guru dalam pembelajaran jika menemui siswa yang pendiam. Hal tersebut dikarenakan mereka yang pendiam biasanya cenderung memiliki kecerdasan linguistik dan interpersonal yang masih rendah.

4.  Menjalin Kerja Sama dengan Orang Tua

Guru tidak dapat mengembangkan potensi siswa pendiam secara optimal tanpa adanya kerja sama dengan orang tua. Jelaskan pada orang tua bahwa mereka memiliki peranan penting dalam membantu anaknya yang pendiam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Peran yang dapat dilakukan orang tua dapat dimulai dengan mengenalkan lingkungan lain kepada anak, seperti anggota keluarga terdekat atau tetangga sekitar. Selain itu, orang tua juga dapat mengajak anak melihat mereka berinteraksi di luar rumah. Tunjukkan kepada anak cara berinteraksi yang baik dengan orang lain. Dengan begitu, anak diharapkan dapat meneladani cara berinteraksi yang dilakukan orang tuanya. Jika sifat pendiam anak sudah sangat ekstrim, orang tua sebaiknya melibatkan tenaga profesional untuk memberi pendampingan khusus pada anak.