21 Juli 2017 09:35:48

Mengenal Perilaku Tantrum pada Anak

Meskipun dipandang normal, orang tua tidak boleh membiarkan perilaku tantrum pada anak muncul terus menerus.

Ketika kemampuan bahasa pada seorang anak belum berkembang sempurna, biasanya anak menunjukkan bahasa lain untuk berkomunikasi seperti dengan menggigit, meremas, atau memukul. Perilaku tersebut muncul pada anak yang berusia satu hingga dua atau tiga tahun. Pada usia tersebut, anak-anak masih mengalami hambatan dalam berkomunikasi sehingga tidak dapat menyampaikan keinginannya dengan tepat. Akibatnya, keinginan anak tidak dapat terpenuhi dan akan membuatnya merasa frustasi. Dalam sudut pandang psikologis, perilaku khas yang muncul pada usia tersebut sering disebut dengan temper tantrum.

Ciri-ciri Anak Mengalami Tantrum

Tantrum atau temper tantrum adalah suatu ledakan emosi yang sangat kuat, disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, berguling, serta menghentak-hentakkan kedua kaki dan tangan pada lantai atau tanah. Adapun ciri-ciri anak yang mengalami tantrum adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar yang tidak teratur.
  2. Sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.
  3. Memiliki suasana hati yang negatif.
  4. Mudah marah.
  5. Perhatiannya sulit dialihkan.

Penyebab Tantrum pada Anak

Tantrum pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Adapun penyebab munculnya tantrum pada anak-anak adalah sebagai berikut.

  1. Ketidakmampuan anak mengungkapkan maksud dan kemampuan diri membuat orang lain tidak mengerti keinginannya sehingga anak merasa frustasi.
  2. Keinginannya untuk mencari perhatian.
  3. Rasa lelah, lapar, sakit, atau kondisi yang tidak menyenangkan.
  4. Pola asuh orang tua yang memanjakan anak dengan memenuhi semua yang diminta anak, sehingga saat keinginan anak tidak terpenuhi maka kemarahannya akan meledak.
  5. Pola asuh orang tua yang tidak konsisten dalam melarang atau mengizinkan.
  6. Perkembangan pribadi anak, anak sering merasa bisa melakukan hal yang dilakukan oleh orang tuanya, jika anak tidak bisa melakukan maka akan muncul perilaku tantrum.

Cara Menghadapi Perilaku Tantrum pada Anak

Perilaku tantrum merupakan hal yang normal terjadi pada usia satu hingga dua atau tiga tahun. Hal tersebut terjadi karena anak-anak tidak memiliki kontrol yang sama dengan orang dewasa. Meskipun dipandang normal, orang tua tidak boleh membiarkan perilaku tersebut muncul terus menerus karena dapat berkembang menjadi perilaku agresif. Berikut cara orang tua menghadapi anak yang tantrum.

1. Lingkungan yang Aman

Pastikan lingkungan anak berada dalam kondisi aman. Jauhkan benda-benda berbahaya di sekitar anak yang akan membahayakan dirinya atau orang lain.

2. Bersikap Tenang

Tetap tenang dan jangan emosi, biasanya membiarkan anak meledak-ledak akan membuat proses tantrumnya lebih cepat berakhir. Cobalah menyertainya tanpa berusaha membujuk, yang terpenting anak merasa aman karena orang tua ada di dekatnya.

3. Jangan Disertai Reward and Punishment

Ketika tantrum anak sudah berhenti, jangan dulu memberikan hadiah atau hukuman karena perilakunya. Anak tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkannya, dari sana anak akan belajar bahwa cara ia mengungkapkan sesuatu salah.

4. Memberi Perhatian

Tunjukan rasa cinta orang tua dengan sesekali mengajak jalan-jalan atau membelikan barang yang diinginkannya. Tunjukan pada anak, meski dia sudah berbuat salah, sebagai orang tua masih tetap mengasihinya.

5. Evaluasi Pola Asuh

Sebagai orang tua cobalah untuk melakukan evaluasi dengan melihat kembali cara menerapkan pola asuh terhadahap anak, apakah terlalu memanjakan atau tidak konsisten. Atau mungkin orang tua kurang peka memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak.