18 Juli 2017 08:57:22

14 Faktor Penyebab Guru Enggan Melakukan Penelitian Tindakan Kelas

Rangkuman mengenai beberapa kesulitan yang dihadapi oleh guru selama kegiatan PTK.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, dalam pertemuannya dengan kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bukan lagi syarat untuk naik jabatan bagi guru. Hal tersebut tentu menjadi angin segar bagi mereka yang selama ini merasa keberatan jika PTK menjadi syarat kenaikan jabatan. Dunia penelitian memang masih sangat jauh dari guru-guru di Indonesia. Padahal di negara barat, penelitian seperti PTK sudah menjadi hal yang lazim dilakukan. Lantas, mengapa PTK di kalangan guru Indonesia masih menjadi hal yang terasa sulit?

Berikut akan disajikan rangkuman mengenai beberapa kesulitan yang dihadapi oleh guru selama kegiatan PTK. Kesulitan-kesulitan di bawah ini diurutkan berdasarkan porsi terbesar yang dirasakan oleh guru sebagai praktisi.

  1. Faktor waktu (24,79%). Waktu menyusun PTK dirasa relatif lama, padahal guru juga sering menghadapi tugas lain yang sama-sama mendesak.

  2. Kurang terampil dalam menggunakan komputer (12,82%). Peningkatan SDM guru harus terus ditingkatkan agar kualitas pendidikan pun dapat meningkat.

  3. Faktor siswa (10,26%). Karena siswa yang dihadapi sangat heterogen, upaya perbaikan dalam PTK yang masih bersifat perlakuan klasikal seringkali sulit untuk diimplementasikan.

  4. Faktor bantuan pembiayaan (9,40%). Guru merasa keberatan jika harus mengeluarkan uang dari saku pribadinya untuk membiayai PTK karena tidak jarang biaya yang dikeluarkan cukup besar.

  5. Perbedaan sistematika penulisan laporan (7,69%). Sistematika penulisan PTK untuk keperluan kedinasan/pekerjaan, seringkali berbeda dari yang telah dipelajari sebelumnya sewaktu menyusun tugas akhir di perguruan tinggi.

  6. Keterbatasan referensi (6,84%). Para guru, khususnya yang berasal dari sekolah yang jauh dari perkotaan, mengaku kesulitan memperoleh sumber kepustakaan untuk dipelajari karena jauhnya jarak perpustakaan atau kesulitan dalam mengakses internet.

  7. Mengalami kebuntuan ide dalam mencari alternatif solusi (5,98%).

  8. Perbedaan pandangan antara pembimbing di lapangan dan dosen ketika melaksanakan perkuliahan (5,13%). Guru sering tidak berdaya untuk menghadapi pandangan baru dari pembimbingnya di lapangan yang berbeda dengan pandangan dosen sewaktu di perkuliahan dulu.

  9. Faktor malas mengetik (4,27%). Hal ini mungkin berkaitan dengan kurangnya keterampilan dalam menggunakan komputer, tetapi bisa juga karena benar-benar malas dalam mengolah data dan menuangkannya menjadi sebuah laporan.

  10. Kesulitan menentukan masalah (4,27%). Seringkali guru tidak peka terhadap permasalahan yang terjadi di kelasnya.

  11. Kurang tersedianya sarana dan prasarana, seperti halnya alat peraga (4,27%).

  12. Kurangnya ahli yang menguasai PTK (1,71%). Ketika guru merasakan adanya hambatan dalam praktik pembelajaran yang terjadi di kelasnya, guru tersebut merasa kesulitan mencari rekan sejawat yang bisa memberikan pencerahan mengenai tindakan apa yang harus ditempuh selanjutnya.

  13. Kurangnya pengalaman penelitian (1,71%). Guru mengakui bahwa salah satu kesulitan untuk melaksanakan kegiatan PTK adalah karena kurang pemahaman dan pengalaman tentang itu. Bahkan pada saat berlangsungnya PTK pun, solusi yang dipilih ternyata tidak cukup efektif untuk mencapai target yang telah ditetapkan, sehingga masalah pun tidak terselesaikan dengan tuntas.

  14. Rekan sejawat yang kurang memberi dukungan (0,85%). Beberapa guru, khususnya yang berusia lebih muda, merasakan bahwa idenya untuk melaksanakan penelitian tidak direspons secara positif oleh rekannya yang lebih senior, terlebih lagi jika senior tersebut memang termasuk yang kurang produktif dalam menghasilkan karya ilmiah.