17 Juli 2017 09:11:33

Revolusi Pendidikan di Hari Anak Nasional

Revolusi pendidikan berbasis revolusi mental menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan saat ini.

Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Anak Indonesia merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu mempertahankan keutuhan persatuan dan kesatuan Negara Indonesia di masa depan. Peringatan Hari Anak Nasional bertujuan untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh bangsa Indonesia dalam menghormati, menghargai, dan menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang seorang anak. Tidak hanya itu, tujuan lain dari peringatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara. Salah satu cara untuk menanamkan kesadaran anak akan hak dan kewajiban adalah melalui pendidikan.

Revolusi pendidikan berbasis revolusi mental menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan saat ini. Revolusi mental yang dimaksud di atas digadang-gadang dapat meningkatkan kualitas pendidikan menjadi lebih baik. Makna dari revolusi mental sendiri adalah segala sesuatu yang menyangkut cara hidup seseorang. Pendidikan merupakan ranah startegis untuk membentuk revolusi tersebut. Namun, mewujudkan revolusi pendidikan berbasis revolusi mental tentu tidak mudah. Diperlukan adanya pembenahan dari berbagai hal, termasuk komitmen dan integritas seluruh pemangku pendidikan untuk menerapkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap pembelajaran yang diberikan kepada anak.

Revolusi mental berkaitan erat dengan pendidikan karakter anak. Tanggung jawab dan hormat merupakan nilai karakter dasar yang harus ditanamkan pada mental anak. Saat kedua nilai tersebut sudah tertanam, maka seorang anak akan menghasilkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, disiplin diri, tolong menolong, peduli terhadap sesama, keberanian, dan sikap demokratis. Sikap seorang anak yang dilandasi nilai-nilai tersebut merupakan suatu bentuk revolusi pendidikan. Jadi, revolusi dalam dunia pendidikan bukan hanya ada pada tataran teori saja, namun juga perwujudan nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan ke kebiasaan hidup sehari-hari.

Oleh karena itu, perlu adanya momentum untuk membentuk mental anak Indonesia agar berkarakter sesuai nilai yang disebutkan di atas. Salah satu momentum yang sesuai untuk perbaikan dunia pendidikan anak adalah Hari Anak Nasional. Melalui peringatan tersebut, anak-anak memiliki harapan baru untuk memperoleh pendidikan dengan layak melalui program revolusi pendidikan. Untuk benar-benar mewujudkan harapan anak Indonesia, pemerintah melakukan beberapa cara berikut.

1.      Memberikan Hak Bersekolah Untuk Seluruh Anak Indonesia.

Setiap anak berhak memperoleh pendidikan minimal 9 tahun, sesuai dengan peraturan pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun. Dalam hal biaya pendidikan, pemerintah sudah menyiapkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk meringankan beban orang tua. Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena masalah biaya.

2.      Menggerakan Kembali Semangat Belajar dan Bersekolah Bagi Setiap Anak.

Pendidikan bukan hanya persoalan pendidikan formal yang berjenjang dan akan berakhir saat sudah lulus serta mendapat ijazah. Melalui pendidikan, guru dapat menanamkan bahwa setiap pelajaran yang didapatkan anak akan berguna untuk masa depannya kelak. Jangan tanamkan pada anak bahwa belajar hanya sekedar untuk mencari nilai, tetapi tekankan bahwa belajar akan memberikan mereka berbagai pengalaman baru yang sebelumnya mungkin belum pernah mereka ketahui. Melalui cara tersebut, anak diharapkan dapat meningkatkan rasa ingin tahunya, sehingga semangat mempelajari hal-hal baru pun ikut meningkat.