23 Juni 2017 14:34:27

Tikus Buta dan Rombongannya

Tikus-buta-dan-rombongannya

Suatu malam, seorang lelaki berjalan-jalan di kebun. Ia tengah menikmati keindahan alam yang tenang. Saat itu malam diterangi oleh cahaya rembulan yang berbaur dengan hijau dedaunan.

Saat tengah asyik menikmati suasana malam yang tenang, ia melihat serombongan tikus berjalan beriringan. Ia merasa takjub dengan pemandangan langka tersebut. Ia pun berhenti, memperhatikan mereka dari jauh.

Di tengah rombongan, tampak seekor tikus besar yang buta. Tikus itu menggigit ujung kayu kering dengan gigi-giginya. Di sampingnya seekor tikus kecil yang bermata tajam menggigit ujung kayu yang lain. Rupanya tikus kecil ini sedang menuntun tikus tua yang buta itu. Dengan cara itulah tikus buta dapat berjalan menuju arah yang dituju oleh rombongannya.

Lelaki itu tercenung melihat kekuasaan Tuhan. Ia merenungkan peristiwa langka itu, memperhatikan bagaimana Tuhan memberikan ilham kepada hewan-hewan yang tidak berakal ini agar yang kuat menolong yang lemah. Ia berpikir tentang manusia, makhluk yang dikaruniai akal oleh Sang Pencipta.

“Apakah manusia suka mengulurkan bantuan dan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan?” ia bertanya dalam hati.

Tidak! Kebanyakan manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka tidak peduli terhadap kesusahan orang lain, sehingga tidak suka menolong sesama.

Padahal, orang-orang yang saat ini kuat besok pasti akan menjadi lemah. Ketika yang kuat menolong yang lemah, ia akan mendapatkan pertolongan saat dirinya telah menjadi lemah. Sebab Tuhan selalu memberikan pertolongan kepada hamba, selama hamba itu memberikan pertolongan kepada sesamanya.