19 Juni 2017 08:46:44

Petani Jujur dan Tetangganya yang Dermawan

petani-jujur

Seorang petani menemui tetangganya yang kaya dan suka berburu. Petani itu mengadukan kerusakan tanaman di ladangnya.

“Maaf, Tuan. Anjing-anjing Anda sering masuk ke ladang saya ketika hendak mengejar binatang buruan. Akibatnya, tanaman saya banyak yang rusak.” kata Petani.

“Benar, saudaraku, banyak anjingku yang masuk ke ladangmu. Jika memang banyak kerusakan, saya siap mengganti kerugianmu. Tolong hitung berapa kerugianmu yang harus saya ganti.” kata si tetangga.

“Ketika saya melihat kerusakan tanaman di ladang, saya meminta seorang teman untuk menaksir kerugiannya. Menurut perkiraan kami, kerugian itu mencapai 3 juta,” kata si petani.

Si tetangga mengangguk, kemudian meminta si petani menunggu sementara ia masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama kemudian ia keluar dengan membawa uang di tangannya.

“Ini, terimalah ganti rugi untuk kerusakan ladangmu. Dan saya minta maaf atas kerusakan yang disebabkan oleh anjing-anjingku.” kata si tetangga sambil memberikan uang ganti rugi sejumlah yang diminta.

“Terima kasih,” kata petani, “saya pamit pulang.”

Ketika tiba waktu panen, si petani melihat bahwa bagian ladang yang dikira rusak ternyata memberikan hasil yang sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari biasanya. Ia pun pergi menemui tetangga yang dermawan dan bijak itu untuk memberitahukan hal itu.

“Tuan, saya ingin mengatakan sesuatu,” katanya.

“Apakah anjing-anjingku kembali merusak ladangmu?” tanya si tetangga.

“Tidak, Tuan. Saya mau mengabarkan bahwa tanaman saya sudah dipanen.” jawab petani.

“Oh, syukurlah. Saya ikut senang. Lalu apa lagi yang hendak engkau sampaikan?” tanya si tetangga.

“Begini, Tuan. Saya hendak mengembalikan uang yang dulu saya terima dari Tuan. Saya merasa tidak berhak menerima uang itu…”

“Lho, kenapa?”

“Sebab ladang yang saya kira rusak itu ternyata menghasilkan lebih banyak dari biasanya, Tuan. Jadi saya tidak merasa dirugikan.”

Mendengar perkataan petani itu, si tetangga merasa sangat haru campur kagum. Setelah terdiam beberapa saat, ia beranjak masuk ke kamar. Sesaat kemudian ia kembali dengan membawa uang lima kali lipat. Uang itu ia serahkan kepada si petani.

“Simpanlah uang ini hingga anakmu mencapai usia 21 tahun. Jika ia mencapai usia itu, berikan uang ini dan ceritakan kisahnya.”

Syahdan, ketika anak petani itu berusia 21 tahun, ia menerima uang dari ayahnya. Saat ayahnya menceritakan kejadian itu, ia merasa sangat takjub. Sejak itu, ia percaya bahwa kedermawanan orang kaya dan kejujuran orang miskin adalah kunci kebahagiaan hidup.