16 Juni 2017 09:33:57

Menghadapi Anak dengan Disleksia

Disleksia yang ditujukan pada anak yang memiliki prestasi rendah di sekolah (Pixabay.com )

Belakangan ini kita sering mendengar istilah disleksia yang ditujukan pada anak yang memiliki prestasi rendah di sekolah. Perlu orang tua ketahui, disleksia adalah salah satu karakteristik kesulitan belajar pada anak yang memiliki masalah dalam bahasa tertulis, oral, ekspresif atau reseptif (Lerner, 2000). Adapun masalah yang sering muncul pada anak disleksia adalah anak mengalami kesulitan dalam membaca, mengeja, menulis dan mendengarkan.

Memang benar adanya bahwa disleksia dsebabkan karena faktor biologis dan kondisi neurologis bawaan. Orang tua dengan disleksia bisa menurunkan bakatnya tersebut kepada anak karena adanya faktor genetik atau bawaan yang menjadi salah satu penyebab terjadinya disleksia. Selain itu, faktor neuron pada saraf menunjukan bahwa anak disleksia memiliki pola aktivitas yang berbeda dengan anak normal, jika anak normal menggunakan hemisfer kiri sedangkan anak disleksia menggunakan hemisfer kanan. Serta pengaruh hormonal prenatal seperti testosteon. 

Kenali Gejalanya Sejak Dini

Disleksia sebenarnya bisa diatasi apabila kita sudah mengetahui kecenderungannya sejak dini. Dalam hal ini, orang tua perlu lebih mengenali anak dengan mengamati kebiasaannya. Menurut Subini (2011), orang tua dapat mengenali kecenderungan anak disleksia dengan memperhatikan gejala berikut:
  1. Membaca lambat kata demi kata jika dibandingkan anak seusianya, serta intonasi suara turun naik tidak teratur.
  2. Mengungkapkan irama kata-kata tidak proporsional.
  3. Sering terbalik dalam mengenal huruf, misalnya antara “kuda” dan “daku”.
  4. Ketidak beraturan terhadap kata yang sedikit perbedaan seperti “buah” dan “bau.
  5. Kesulita memahami isi bacaan.
  6. Kesulitan mengurutkan huruf dalam kata.
  7. Sulit menyuarakan fonem dan memadukannya menjadi kata.
  8. Sulit mengeja dengan benar.
  9. Sering terbaik menuliskan atau mengucapkan kata. Misalnya “kucing duduk di atas kursi” menjadi “kursi duduk di atas kucing”.
  10. Rancu dengan kata-kata singkat, misalnya “ke”, “dari”, “dan”, “jadi”.
  11. Lupa meletakkan titik atau tanda baca lainnya ketika menulis kalimat.

Orang Tua Tidak Perlu Panik

Jika terdapat gejala tersebut dalam perilaku anak, orang tua tidak perlu khawatir. Semakin dini deteksi disleksia akan semakin memudahkan anak dalam belajar. Peran serta orang tua dalam menghadapi anak disleksia sangatlah diperlukan agar tumbuh kembangnya semakin pesat.Orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk menemukan metode yang paling efektif guna merangsang kecerdasan anak. Meskipun begitu, orang tua perlu hati-hati dalam memberi pengertian pada anak karena biasanya anak dengan disleksia memiliki motivasi dan rasa percaya diri yang rendah. Untuk memberikan pemahaman yang lebih jauh, berikut cara orang tua menghadapi anak disleksia:

1. Identifikasi Kemampuan Anak

Sebelum mengajarkan suatu pemahaman kepada anak, kita harus megidentifikasi sejauh mana kemampuannya. Jika anak tidak mampu satu halaman, maka dicoba dengan satu paragraf. Jika satu paragraf tidak bisa, coba dengan satu kalimat. Terus kenali kemampuan anak supaya mereka tidak merasa dtekan ketika belajar.

2. Sering Membacakan Cerita

Orang tua dapat melakukan terapi ringan dengan membacakan cerita kepada anak. Biarkan anak berusaha menyesuaikan tanpa memaksa anak untuk duduk diam. Teruskan membaca hingga lama kelamaan apa yang diajarkan tertanam dalam benak anak. Manfaatkan momen ketika anak memperhatikan untuk menekankan bagian penting seperti huruf, kata atau kalimat suapaya anak bisa mengingatnya.

3. Membaca Sesuai Minat

Setiap anak pasti memiliki ketertarikan terhadap benda atau aktifitas tertentu, seperti binatang, mobil, boneka, film, tokoh kartun, atau aktifitas seperti memasak atau menggambar. Pilihlah buku bacaan yang sesuai dengan minat anak, hal tersebut akan menarik perhatian anak untuk membaca.

4. Mengenali Bacaan di Sekeliling

Asah terus kemampuan anak dalam membaca dengan mengajak membaca kata-kata yang ada di sekelilingnya. Seperti saat sedang jalan-jalan, cobalah membaca papan toko di sepanjang jalan atau objek-objek yang ada disekitar. Jika anak bermain dengan mainannya, ajaklah anak memperhatikan tulisan yang tertempel pada mainan tersebut.