09 Juni 2017 09:55:43

Menyiapkan Kematangan Anak Saat Memasuki Sekolah Dasar

Ilustrasi : Anak yang sudah matang secara psikologis akan mudah menyesuaikan diri di lingkungan sekolah.

Saat ini, muncul fenomena menarik dalam dunia pendidikan terutama jenjang sekolah dasar (SD). Beberapa orang tua berbondong-bondong ingin segera memasukkan anaknya ke sekolah formal. Mereka beralasan takut anaknya ketuaan atau anaknya sudah memaksa ingin bersekolah meskipun belum memenuhi usia sekolah. Hal ini kurang tepat karena anak harus siap secara usia dan kematangan psikologis untuk masuk SD. Jika tidak sesuai usia, dikhawatirkan anak akan mengalami kebosanan di sekolah karena pada usia bermainnya anak malah sudah disekolahkan. Jika kematangan psikologis belum dimiliki anak, dikhawatirkan anak akan kesulitan menyesuaikan diri di lingkungan sekolah. 

Psikolog Lia Boediman, M.S.C.P., Psy. D. menuturkan bahwa sebelum memasuki jenjang SD, anak sebaiknya memiliki beberapa aspek kematangan bersekolah meliputi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan kemandirian. Jadi, kemampuan anak menulis, membaca, dan berhitung (calistung) saja tidak cukup untuk masuk SD. Itulah alasan banyak SD yang mengharuskan para calon peserta didiknya melakukan tes kematangan sekolah, yaitu untuk mengetahui kesiapan anak bersekolah. Tes kematangan sekolah perlu dilakukan agar jangan sampai terjadi anak berusia 4 tahun sudah masuk SD hanya karena kemampuan calistung saja.

Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung termasuk ke dalam ranah kognitif. Hal tersebut bukan jaminan utama seorang anak siap memasuki dunia sekolah. Sebab, diperlukan aspek kematangan lainnya seperti kemandirian, bahasa, motorik, dan sosial-emosional agar anak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Bisa jadi ada anak yang memiliki IQ tinggi, namun anak tersebut mudah menangis atau tantrum selama di sekolah. Ada juga anak yang sudah lancar calistung, namun belum bisa melakukan toilet training. Kasus pertama menunjukkan adanya ketidakmatangan pada aspek emosi, sedangkan kasus kedua menunjukkan ketidakmatangan pada aspek kemandirian.

Kita harus memastikan anak sudah memenuhi kematangan bersekolah agar semua perkembangannya dapat maksimal. Terdapat beberapa ciri dari setiap aspek kematangan anak bersekolah yang perlu diperhatikan orang tua, di antaranya:

1.    Aspek Fisik

Aspek fisik terdiri dari aspek motorik kasar dan halus. Untuk kematangan motorik kasar, anak harus mampu berjalan lurus, berlari, melompat, melempar, memanjat, naik turun tangga, serta mengombinasi gerakan lompat, jongkok, tegak, dan berguling. Untuk kematangan motorik halus, anak harus mampu memegang pensil dengan tiga jari, menggambar orang, makan sendiri, menulis angka dan huruf, mewarnai, menggunting, serta menyusun LEGO.

2.    Aspek Bahasa

Untuk kematangan bahasa, anak harus mampu memperkenalkan diri, nama, alamat, serta keluarganya. Anak juga harus mampu bercerita tentang keadaan rumah, sekolah, atau permainan. Ciri-ciri lainnya adalah anak mampu menjawab pertanyaan, menyanyikan lagu, menyebutkan anggota badan, serta menirukan huruf, suku kata, dan kata.

3.    Aspek Kognitif

Untuk kematangan kognitif, anak harus mampu menerangkan kegunaan suatu benda dan mengenal warna, bentuk, angka atau bilangan. Anak juga harus mampu mengelompokkan benda, memahami konsep penjumlahan dan pengurangan, membaca tanda-tanda umum seperti rambu-rambu jalan, serta memiliki rasa ingin tahu yang besar.

4.    Aspek Sosial-Emosional

Untuk kematangan sosial-emosional, anak harus mampu bermain bersama temannya, tidak bergantung kepada orang tua, mampu menolong orang lain, bisa beradaptasi dengan lingkungan baru seperti teman dan guru, bisa diberi tahu, mampu berkonsentrasi maksimal 15-20 menit, bisa menunggu dan menahan keinginannya, serta mampu mengikuti aturan dan tuntutan lingkungan.

5.    Aspek Kemandirian

Untuk kematangan aspek kemandirian, anak harus mampu makan sendiri, memakai dan melepas baju sendiri, menyikat gigi sendiri, toilet training, serta mampu diatur pada rutinitas sehari-sehari seperti bangun tidur.