20 Maret 2017 09:35:26

Buku Itu Candu

Buku Itu Candu

Adalah fitrah manusia, memiliki rasa ingin tahu. Fitrah inilah yang telah menobatkan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi, yakni ketika Adam, bapak moyang manusia, mampu menyisihkan para pesaingnya dalam sebuah drama ”cerdas cermat” yang digelar Tuhan di surga. Fitrah keingintahuan yang besar mendorong Adam untuk belajar, ”membaca”, sehingga kemudian dengan piawai menyebutkan nama benda-benda di surga yang menjadi materi ujian dalam drama cerdas cermat itu, meng-knock out para malaikat dan Iblis yang menjadi lawan-lawannya. Maka, sungguh, bukan suatu kebetulan jika firman Tuhan yang pertama adalah perintah untuk membaca. Sebab, dengan membaca, manusia tidak hanya dapat memenuhi rasa ingin tahunya, melainkan juga menemukan pengetahuannya. Adam, itulah buktinya.

Rasa ingin tahu dalam diri manusia ini diyakini oleh Aristoteles sejak mula sebagai sumber pengetahuan, dan rasa ingin tahu ini pula yang ia jadikan sebagai dasar filsafatnya, yang kemudian menjadikannya sebagai seorang ”master”. Berangkat dari rasa ingin tahu yang besar bahkan terhadap hal-hal kecil, ”rasa takjub”, demikian Plato menyebutnya, manusia menyusun pengetahuannya.

Lalu, ibarat seorang musafir kelana yang hampir sekarat karena dahaga, yang menemukan oase di tengah gurun sahara, manusia pun mulai merasakan lezatnya pengetahuan yang ia temukan dari petuah orang bijak, dari obrolan ringan di angkringan, dari canda tawa, dan dari segala isi dunia. Ketika sebuah rasa ingin tahu terobati oleh pengetahuan yang didapatnya, rasa ingin tahu akan sesuatu yang lain menuntutnya untuk mencari ”tahu” lagi. Ia mulai kecanduan. Dan ketika didapatinya semua itu ada di dalam buku-buku, karena memang di sanalah segala pengetahuan bersemayam, ia pun mulai kecanduan membaca buku. Setiap kali rasa ingin tahu terhadap sesuatu mendesaknya dari dalam, yang terpikirkan olehnya dan harus dilakukannya adalah membaca buku. Candu buku telah merasuki jiwanya dan menuntutnya untuk terus menikmatinya. Dan dari sinilah risiko itu dimulai.

Buku, sebagaimana juga media-media yang lain seperti televisi dan internet, bak pisau bermata dua: ia bisa jadi sangat berguna, atau sebaliknya sangat berbahaya. Jadi, sejatinya, membincang candu buku berarti mendiskusikan manfaat dan mudarat.

Tentu kita sepakat bahwa kecanduan (membaca) buku itu jauh lebih baik daripada kecanduan (menonton) televisi, namun harus pula disadari sejak mula bahwa kecenderungan terhadapnya mestilah terarah. Sebab, bagaimanapun juga pengetahuan yang diperoleh darinya pelan tapi pasti akan memengaruhi jiwa pembacanya dan selanjutnya membentuk kepribadiannya. Di sinilah pentingnya memilih buku bagus sebagai bacaan yang bermutu, yang akan menjadi asupan gizi yang menyehatkan jiwa. Dan di sinilah keluarga, tepatnya para orangtua, memainkan peran strategis dalam memilihkan bacaan untuk anak-anaknya sejak usia balita. Dengan bantuan yang tepat dari orangtuanya, anak akan memiliki kecenderungan-membaca yang positif, sehingga jiwanya tumbuh dengan sehat.

Setiap orangtua mesti menyadari peran strategis ini, sebab di tangan merekalah busur panah direntangkan. Anak panah hanya akan meluncur ke arah mana sang pemegang busur menghendaki. Merekalah, anak-anak kita, anak panah itu dalam metafora Gibran. Konsekuensinya, orangtua juga harus mengerti pengetahuan yang positif dan yang negatif, memahami bacaan yang bermutu dan tidak, serta mengenali buku yang bagus dan jelek. Dengan kata lain, mereka juga harus membaca. Tanpanya, mustahil mereka mampu mengarahkan bakat alami anak-anaknya untuk meminati bacaan positif yang menyehatkan jiwanya. Fâqidusy syai’i lâ yu’thîhi”, kata pepatah Arab. Orang yang tidak punya sesuatu tidak mungkin dapat memberikan sesuatu.

Dalam konteks inilah, membangun tradisi membaca dalam lingkungan keluarga menjadi penting. Aktivitas literasi semacam "Jam Keluarga Membaca" harus dibudayakan meskipun hanya satu jam (mungkin antara bakda magrib sampai isya). Bagaimanapun juga, keluarga harus dibangun pertama kali ketika kita ingin membangun bangsa. Sebab keluarga merupakan fondasi bangunan budaya sebuah masyarakat, sebagaimana budaya masyarakat menjadi bahan pembangun budaya suatu bangsa. Kebiasaan membaca di lingkungan keluarga akan tumbuh secara masif menjadi budaya dan pada akhirnya akan membentuk kepribadian bangsa.

Membudayakan membaca itu baik. Namun, apa jadinya kalau bacaan yang dibudayakan adalah bacaan-bacaan yang tidak bermutu, yang semakin dibaca semakin membuat bangsa ini sakit jiwa? Bacaan yang bermutu, kalau saya definisikan secara sederhana, adalah bacaan yang membuat jiwa pembacanya sehat, baik secara individual maupun sosial.

Memilih bacaan yang menyehatkan jiwa itu penting, sebab buku adalah candu. Jangan sampai candu yang merasuki pikiran anak-anak kita adalah candu dari buku-buku yang akan merusak jiwanya.

Muhyidin Albarobis

*Artikel pernah dimuat di Booklet Pesta Buku Jogja 2010 dan Harian Kedaulatan Rakyat, 11 Maret 2010; dimuat kembali atas izin penulis dengan sedikit perubahan.