31 Mei 2017 10:46:01

Hari Lahir Pancasila Momentum untuk Menanamkan Semangat Nasionalisme dalam Keluarga

Ilustrasi : semangat nasionalisme dalam keluarga adalah salah satu wujud kecintaan kepada Pancasila

Hari Lahir Pancasila bukan hanya bisa kita peringati di sekolah atau instansi pemerintahan. Peringatan ini juga dapat kita maknai di dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga merupakan tempat pertama untuk menanamkan nilai-nilai, sikap dan karakter pada seorang anak. Sebagai warga negara yang baik, nilai-nilai luhur Pancasila harus menjadi bagian dalam pendidikan keluarga di rumah. Semangat nasionalisme tidak dapat tumbuh dengan sendirinya, namun harus dimaknai dengan sikap yang nyata. Sebagai peniru yang baik, ada beberapa hal yang bisa orang tua lakukan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dalam keluarga, sebagai wujud kecintaan kepada Pancasila.

1. Memperkenalkan Keanekaragaman Indonesia

Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman agama, budaya, adat dan tradisi. Mulailah dengan memperkenalkan lagu, bahasa, baju khas, makanan, rumah hingga cerita daerah orang tuanya berasal. Orang tua dapat mengajak anak berwisata keliling Indonesia untuk lebih memahaminya. Cara lain adalah dengan menggunakan media pendidikan yang memperlihatkan keanekaragaman Indonesia.

2. Memperkenalkan Sejarah Indonesia

Orang tua dapat menceritakan tentang kisah-kisah pahlawan Indonesia yang sudah berjuang dan berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Sikap kepahlawanan tersebut dapat dimaknai dan dikaitkan dengan hal-hal yang bisa anak temui dalam keseharian. Orang tua dapat memperkenalkan lewat dongeng, film atau dengan berkunjung ke museum.

3. Menggunakan Produk dalam Negeri

Tanpa kita sadari, anak-anak kita tumbuh dikelilingi berbagai produk impor. Hantaman ini merupakan salah gejala kemunduran ekonomi di bidang produksi. Ada baiknya jika anak dibiasakan untuk mengenal dan menggunakan produk sehari-hari karya dalam negeri. Seperti dengan mengenakan batik yang merupakan warisan budaya Indonesia, atau berbelanja jajanan lokal yang tersedia di pasar tradisional.

4. Terbiasa Bertoleransi terhadap Perbedaan

Menanamkan rasa toleransi dapat dilakukan sejak anak bisa bersosialisasi dengan teman sebaya. Ajarkan anak melihat perbedaan di sekitar, dan ajak anak untuk bertoleransi terhadap perbedaan tersebut. Berikan pemahaman pada anak untuk tidak melihat perbedaan tersebut sebagai ancaman, namun sebagai kekuatan untuk dapat saling membantu dan melengkapi. Rasa nasionalisme dan anti rasisme sangat penting karena sesuai dengan semboyan Indonesia “Bineka Tunggal Ika”.

5. Membudayakan Kembali Permainan Tradisional

Jangan lupakan bahwa kita memiliki  beragam permainan tradisional. Ajak anak mengenalnya dan sejenak lepaskan anak dari gadget atau mainan modern yang lain. Permainan tradisional dapat merangsang perkembangan anak baik secara psikomotor, sosial dan kognitif. Manfaat lain adalah kita bisa turut melestarikan permainan anak agar tidak terlupakan karena perkembangan zaman.