20 Maret 2017 09:02:24

Pembelajaran Tematik Integratif

Pembelajaran Tematik Integratif

Menurut UU Sisdiknas Nomor 20/2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam kajian-kajian sosiologi pendidikan, penyusunan kurikulum tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat di mana kurikulum itu diberlakukan. Oleh sebab itulah kurikulum selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman. Bahkan para ahli menegaskan bahwa perubahan kurikulum adalah suatu keniscayaan, karena tidaklah mungkin menghadapi kompleksitas zaman sekarang dengan menggunakan kurikulum lampau. Dari sudut pandang ini, kehadiran Kurikulum 2013 merupakan respon terhadap perkembangan zaman yang membawa masalah yang berbeda.


Salah satu ciri khas Kurikulum 2013 adalah proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, yang dengannya diharapkan peserta didik memiliki kemampuan proses berpikir kritis dan analitis yang merupakan ciri khas berpikir ilmuwan. Selain pendekatan pembelajaran saintifik, Kurikulum 2013 juga menegaskan penyelenggaraan pembelajaran tematik terpadu atau tematik integratif pada jenjang sekolah dasar (SD). Melalui proses pembelajaran ini, diharapkan peserta didik dapat memiliki keterampilan berpikir yang mengoptimalkan kecerdasan ganda (multiple intelligences) melalui beragam konten materi pelajaran yang diikat dalam kesatuan tema, sehingga perkembangan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang menjadi tujuan kurikulum dapat tercapai.

Ciri utama pembelajaran tematik adalah adanya tema-tema yang menjadi media untuk menyampaikan materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Secara konseptual, tema dapat mengikat materi dan kegiatan pembelajaran dalam satu mata pelajaran. Namun penggunaan istilah tematik-integratif dalam Kurikulum 2013 menegaskan bahwa tema-tema pembelajaran digunakan untuk mengikat beberapa mata pelajaran, sebab ketika tema digunakan secara lintas mata pelajaran terjadilah proses integrasi di antara pelajaran-pelajaran tersebut.

Pada praktiknya, pembelajaran tematik-integratif membutuhkan media yang memadai supaya kegiatan pembelajaran dapat didesain sebaik mungkin. Guru tidak lagi cukup hanya mengandalkan buku sebagai media pembelajaran, sebab pembelajaran tematik-integratif menuntut banyak media yang dapat merepresentasikan berbagai materi lintas pelajaran. Media-media pembelajaran lain seperti video, audio, lagu, animasi, permainan interaktif, dan sebagainya menjadi sangat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran tematik-integratif.

Selain kebutuhan terhadap media pembelajaran yang variatif, harus pula diingat bahwa dokumen Standar Proses dalam Kurikulum 2013 menuntut pembelajaran diselenggarakan secara “interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Dalam kaitan ini, pemilihan media pembelajaran akan turut menentukan apakah suatu kegiatan pembelajaran memenuhi Standar Proses atau tidak. Media pembelajaran yang ideal adalah media yang dapat menyampaikan berbagai materi lintas pelajaran, sekaligus dapat mewujudkan kegiatan pembelajaran yang aktif, interaktif, inspiratif, menantang, dan menyenangkan. Dengan media pembelajaran yang ideal, guru dapat menyelenggarakan kegiatan pembelajaran tematik-integratif yang ideal pula. Selain itu, guru juga dapat mendesain pembelajaran yang aktif, interaktif, inspiratif, menantang, dan menyenangkan, sesuai tuntutan Standar Proses.

Muhyidin
Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga