24 Mei 2017 10:27:33

Menyontek Sebagai Tanda Degradasi Moral Siswa Di Sekolah

Ilustrasi : menyontek dipicu oleh menurunnya pendidikan moral yang berfokus hanya kepada skor atau angka.

Pendidikan sejatinya bertujuan untuk menghasilkan generasi masa depan yang mulia dan berkarakter. Namun seiring berjalannya waktu, timbul beberapa masalah dalam dunia pendidikan. Salah satu masalah yang masih mengakar dalam dunia pendidikan adalah menyontek. Perilaku menyontek pada siswa banyak ditemui ketika musim-musim ujian di sekolah.

Masalah tersebut bukan semata-mata tanggung jawab pendidik, melainkan juga tanggung jawab semua lapisan masyarakat. Definisi menyontek menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) berasal dari kata sontek yang mempunyai arti mengutip (tulisan dan sebagainya) sebagaimana aslinya; menjiplak. Jika kita merujuk pada “Webster’s New World Dictionary” secara sederhana menyontek dapat dimaknai sebagai penipuan atau melakukan perbuatan tidak jujur.

Perilaku menyontek pada siswa disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa faktor penyebab siswa menyontek sebagai berikut.

  1. Terpengaruh orang lain yang tengah menyontek, meski awalnya tidak berniat menyontek.
  2. Terpaksa membuka buku karena pertanyaan terlalu membuku (bukusentris).
  3. Ada peluang untuk menyontek karena pengawasan tidak ketat.
  4. Ingin mendapat nilai tinggi tapi tidak sesuai dengan usaha belajar.
  5. Takut gagal dan tidak percaya diri.

Akibat menyontek tidak hanya dirasakan oleh diri pelaku sendiri, tetapi juga berakibat pada kredibilitas lembaga dan masyarakat. Menyontek merupakan perbuatan tidak jujur untuk mendapatkan nilai yang tinggi sehingga hasilnya tidak murni. Pada akhirnya, perilaku menyontek tidak menampilkan hasil belajar yang sesungguhnya dan tidak menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Jika dibiarkan, perilaku menyontek akan menjadi kebiasaan dalam diri siswa sehingga akan diulangi terus-menerus ke depannya.

Untuk mengatasi perilaku menyontek di kalangan siswa, guru sebagai pendidik memainkan peranan penting. Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur formal. Tugas pendidik tidak hanya mengajar atau menyampaikan materi pelajaran, tetapi mendidik dengan memberikan contoh yang baik bagi siswa termasuk menanamkan nilai kejujuran.

Peran pendidik dalam menanamkan nilai kejujuran tidak sekedar “kampanye”, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-sehari yang dilakukan melalui suatu kebiasaan. Sebagai contoh, pendidik perlu mengajarkan perilaku-perilaku yang bisa mejadi dasar dari kejujuran. Seperti ketika menemukan barang miliki orang lain, siswa diajarkan untuk selalu mengumumkannya atau menyerahkan kepada guru agar dikembalikan. Sikap-sikap sederhana tersebut dapat melatih kejujuran siswa sehingga akan mengembangkan karakter tanggung jawab, percaya diri, dan disiplin diri. Jika karakter tersebut sudah tertanam dalam diri siswa, perilaku menyontek tidak akan membudaya lagi.